Chapter 1. Cahaya dari Kota Mekkah
Bumi begitu gelap. Sekian ratus tahun tak ada Nabi setelah Nabi Isa AS.Ajaran murni Nabi Ibrahim AS telah jauh melenceng dari sumbernya.
Kakbah tetap berdiri kokoh di Mekkah, namun ada ratusan berhala di sekelilingnya.
Hingga pada tahun 571 M, di kota yang dulunya gurun pasir tak ada kehidupan, lahirlah seorang laki-laki yang akan mengubah dunia.
Kehadirannya adalah bentuk terkabulnya do'a Nabi Ibrahim AS ratusan tahun lalu.
Ketika Sang Ibunda mengandung sosok mulia ini, dari tubuhnya muncul cahaya hingga sampai ke Syam. Cahaya yang akan lahir begitu dinanti penduduk langit dan bumi.
Di malam Beliau lahir, ada bintang besar yang sebelumnya tidak pernah terlihat, bersinar sangat terang.
Seolah mengumumkan ke seluruh penghuni alam semesta, bahwa yang begitu dinanti akan segera lahir. Masa kegelapan akan segera berakhir.
Seolah mengumumkan ke seluruh penghuni alam semesta, bahwa yang begitu dinanti akan segera lahir. Masa kegelapan akan segera berakhir.
Siapakah sosok itu?
Cucu Abdul Muthalib, ini adalah nama besar, tokoh kharismatik, dua jasanya tak kan pernah dilupakan: menemukan sumur zam-zam yang sempat hilang dan memimpin perlawanan Abrahah pasukan gajah.
Nasab beliau berlanjut hingga ke Nabi Ibrahim AS.
Nasab yang sangat prestisius, bapaknya para Nabi.
Beliau adalah bagian dari suku Quraisy.
Siapa itu Quraisy?
Nama lain dari Fihr. Leluhur Rasulullah yang ke-11.
(Ustadz Nuzul menyebutkan silsilah garis keturunan dari Fihr -> Ghalib -> Lu’ay -> Ka’ab -> Murrah -> Kilab -> Qushay ... Abdul Muthalib -> Abdullah -> Nabi Muhammad SAW, Ustadz bilang butuh 4 hari buat menghapalnya, masya Allah)
Suku Quraisy adalah suku bangsa Arab, penguasa Mekkah, penjaga Kakbah dan musim haji.
Jadi bangsa Quraisy masih ada hubungan darah dengan beliau. Masih keluarga.
Namun keluarga besar beliau sendirilah yang memfitnah, memerangi, menyakiti beliau.
Lesson learned: Tidak aneh kalau ada orang berhijrah dapat tantangan terbesar dari keluarga. Ini juga Nabi SAW alami ketika berdakwah.
Sungguh betapa powerful-nya Rasulullah SAW dari sejak sebelum jadi Nabi.
Masa kecil beliau sangat bersih dari catatan, tidak ada rapor merah. Excellence.
Beliau bergelar Al-Amin, sangat dipercaya sejak usia muda.
Nama beliau jadi garansi dalam berinteraksi.
[Fast forward]
Rasulullah SAW muda semakin dikenal sebagai pedagang yang jujur, adil, dan terpercaya, sehingga banyak investor mempercayakan modalnya.
Termasuk Khadijah dari bani Asad, salah satu cabang dari suku Quraisy.
Beliau adalah wanita terkaya, tercantik, termatang di kota Makkah.
Beliau mendapat gelar Ath-Thohiroh (wanita suci), sosok yang sangat menjaga kehormatan diri.
Rasulullah SAW dititipi barang dagangan termahal dari Khadijah dalam misi dagang ke Syam. Dengan kecerdasan beliau, tidak hanya barang-barang itu dijual, tapi setelahnya uang hasil penjualan dibelikan barang lagi untuk dijual di Makkah, sehingga keuntungan menjadi berlipat ganda.
Ketika berdagang barang titipan Khadijah, Rasulullah SAW ditemani oleh Maisaroh (Budak laki-laki kepercayaan Khadijah, nah siapa yang menyangka kalau Maisaroh itu perempuan..kayak aku :p).
Maisaroh pun menyampaikan hasil pemantauannya. Diceritakannya betapa indah akhlak Rasulullah SAW, betapa cerdas Rasulullah SAW.
Dalam perjalanan tersebut, Maisaroh melihat tanda kenabian yang luar biasa, Rasulullah SAW selalu dinaungi awan, Rasulullah SAW berteduh di pohon yang kata Rahib tidak ada yang pernah duduk di bawah pohon itu selain Nabi, ini pun diceritakan kepada Khadijah.
Dari kesaksian Maisaroh lah, Khadijah tidak hanya berpikir untuk melanjutkan hubungan bisnis tapi menjadikan Rasulullah SAW pemimpin dirinya. Suami beliau.
Lesson learned buat para sister:
Ketika akan menentukan pasangan, apa yang perlu dilakukan?
Kumpulkan data yang valid lalu buktikan data tersebut.
Khadijah tidak hanya tau Rasulullah SAW based on data, tapi karakter dan moralnya sudah diuji.
Khadijah sebenarnya sudah tau Rasulullah SAW sejak kecil, mereka sama-sama dari suku Quraisy, sama-sama tokoh yang terpandang. Tapi tetap beliau menguji Rasulullah SAW dengan misi dagang tadi.
Inilah pentingnya tes untuk membuktikan calon pasangan.
Jangan percaya dari sebatas tulisan di CV, apalagi janji-janji manis.
Jangan halu dengan dracin (oh ternyata dia CEO yang menyamar -_-).
Bukan Khadijah namanya, kalau tidak bermain cantik.
Langkah selanjutnya adalah dia meminta tolong kepada Nafisah, sahabat karibnya.
Nafisah bertanya, "Wahai Muhammad, kenapa engkau belum menikah?"
Rasulullah SAW menjawab masih mempersiapkan dari sisi ekonomi.
Lalu Nafisah melanjutkan, "Kalau ada seorang wanita sangat cantik, matang, cerdas, baik hati, berakhlak mulia dan tidak mempermasalahkan isu ekonomi tsb, apakah Anda mau?"
"Siapa dia?"
"Khadijah." jawab Nafisah.
"Bagaimana caranya?"
Jawab Nafisah, "Serahkan kepadaku."
(Cantik banget kan ya bagaimana Ibunda kita, Khadijah, maju duluan tapi terselubung)
Di hari H, Nabi bersama keluarga besarnya, bani Hasyim (yang handle logistik dan konsumsi jamaah haji) mendatangi Khadijah bersama keluarga besarnya, bani Asad (yang menguasai ekonomi Makkah, kaum elit di bidang perdagangan, para orang kaya).
Abu Tholib, paman Nabi, ditunjuk untuk menyampaikan khutbah pernikahan. Khutbah yang sangat powerful.
Sang Paman menyadari bahwa ada potensi konflik kalau posisi ekonomi wanita lebih tinggi daripada pria, maka dalam khutbahnya Abu Tholib menyampaikan:
- Poin pertama. Bahwa posisi keponakan saya dan kalian sama, satu level. Sama² keturunan Nabi Ibrahim AS, sama-sama penjaga Kakbah, sama-sama pelayan jamaah haji. Skor 1:1.
- Poin kedua. Keponakan saya (Rasulullah SAW) adalah laki-laki terbaik, laki-laki mulia. Tinggi kedudukannya, berkelas bukan laki-laki sembarangan. Skor 2:1.
- Poin ketiga. Sang Paman mengangkat isu ekonomi Khadijah yang lebih banyak dari Nabi. Tapi kalimat lanjutannya adalah harta sebagaimana yang kalian tau adalah bayangan yang segera sirna dan akan berubah di masa depan. Bisa jadi keponakanku akan lebih kaya kelak. Ini dikatakan dengan penuh keyakinan asalkan sosok yang diangkat punya value, track record, integrity. Skor jadi 3:1.
Abu Tholib yakin di masa depan, keponakannya akan punya nama besar.
Walaupun saat menikah harta sedikit tapi yang ditonjolkan adalah karakter, bukan seserahan yang tanpa esensi (di layar muncul gambar: tumblr bermerk mahal, PS-5, raket padel, seperangkat alat matcha eksklusif).
Boleh-boleh aja si, maharnya barang fancy, tapi jangan lupakan esensi.
Majulah dalam pernikahan dengan iman, ketakwaan, karakter, dan kepemimpinan.
Majulah dalam pernikahan dengan iman, ketakwaan, karakter, dan kepemimpinan.
Di chapter 1 ini, Ustadz Nuzul menutup dengan betapa mapan dan sempurnanya kehidupan Rasulullah SAW sebelum kenabian.
Beliau adalah sosok mulia, pedagang yang Amanah, menikah dengan sosok Wanita terpandang yang diperebutkan oleh banyak pemuka Quraisy.
Beliau dikaruniai anak-anak (Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah Az-Zahra) yang menyejukkan hati.
Secara manusiawi, beliau sedang berada di level tertinggi.
Chapter 2. Wahyu di Tengah Kesunyian
Saat itu, usia Rasulullah SAW menjelang 40 tahun.Beliau sering ber-tahanuts di gua Hira, muhasabah diri untuk mencari ketenangan, mengkhawatirkan dan memikirkan kondisi masyarakat Makkah yang semakin menyimpang.
Dan wahyu pertama pun turun dari langit, di bulan Ramadhan.
Iqra!
"Saya tidak bisa membaca."
Beliau ditarik dan dipeluk erat oleh Malaikat Jibril, sangat kencang.
Iqra!
"Saya tidak bisa membaca."
Ditarik dan dipeluk lagi kuat-kuat.
Iqra!
"Saya tidak bisa membaca."
Dipeluk lagi semakin erat hingga susah bernapas.
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."QS. Al-'Alaq: 1-5
Beliau bergegas turun, pulang ke rumah, apa yang beliau tuju?
Setelah hilang ketakutannya, Rasulullah SAW bercerita apa yang terjadi di gua Hira.
Rasulullah SAW berkata, "Saya khawatir dengan diriku."
Khawatir akan wafat/sakit/tidak amanah dengan beban tanggung jawab berat ini.
Lalu Khadijah berkata dengan yakin, "Demi Allah, Dia tidak akan menghempaskanmu."
Kata-katanya tidak menjatuhkan. Intonasi suaranya lembut nan menguatkan. Beliau angkat moril suami.
"Engkau menyambung tali silaturahmi, engkau bantu anak yatim, engkau memuliakan tamu, engkau selalu ada ketika orang tertimpa bencana."
Lesson learned:
Kalau suami lagi down, angkat morilnya dengan cara ingatkan kebaikan²nya.
Selanjutnya Khadijah ajak Rasulullah SAW menemui Waraqah, tidak asbun atau sok tau, tapi ajak ke yang punya ilmu.
Khadijah tau cara berkomunikasi, beliau berkata ke Waraqah, "Tolong dengarkan suamiku." bukan dorong² paksa suami untuk bicara.
Ketika Nabi sedang galau, shock, ada masalah besar, maka yang didatangi adalah istri.
Sejak wahyu pertama turun, kehidupan Rasulullah SAW tak sama lagi.
Beliau lakukan dakwah sirriyah (sembunyi², tertutup, personal, terbatas kepada orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat).
Rasulullah SAW harus menerima peta telah berubah, awalnya beliau selalu berada di panggung utama kota Makkah, berubah menjadi di panggung lebih kecil/pinggiran.
Mungkin di bagian ini kita gak notice kalau baca sirah Nabawiyah, betapa lapang dadanya beliau, tetap menjalani perannya dengan sempurna meski panggungnya berubah ke level bawah.
Dari dakwah beliau di tahap awal, Abu Bakr masuk Islam, Khadijah, anak² beliau, anak angkat beliau (Zaid bin Haritsah) masuk Islam. Beliau awali dari yang terdekat dan satu atap dulu.
Setelah dakwah sirriyah, tibalah waktunya untuk dakwah terang-terangan.
Nabi kembali tampil di panggung utama dengan konstelasi yang berbeda.
Awalnya di posisi social darling berubah jadi public enemy.
Apa akibat dari dakwah terbuka itu?
Ruqayyah dan Ummu Kultsum dicerai.
Sesungguhnya serangan dengan lisan lebih menyakitkan dibanding serangan dengan senjata.
Akhirnya Rasulullah SAW dan kaum Muslimin diboycott oleh Quraisy, keluarga sendiri.
Sosok Khadijah memutuskan keluar dari rumahnya dan melepaskan status sosialnya yang tinggi. Khadijah memilih tidur di atas tanah dibanding di atas kasur yang nyaman. Demi menemani Sang Nabi sekaligus Sang Suami, di usia beliau yang 62 tahun. Ya Rabb...
Juga Abu Tholib yang tak pernah gentar membela Rasulullah SAW, ikut merasakan terisolasi karena boycott, di usia 82 tahun.
Bayi² terdengar menangis kelaparan, semua di-cut gak ada akses, makanan minuman, jual beli, interaksi apapun tak diperkenankan, bahkan tidak boleh menikah dengan Quraisy lainnya.
Mereka sampai harus makan daun²an dalam waktu lama, yaa Rabb..
Bukan daun² sekarang seperti salad dengan topping yang enak.
Yang mereka makan adalah dedaunan liar, daun akasia, rantingnya berduri, ini makanan unta, bukan sehari dua hari. Ini ujian sangat berat selama 3 tahun.
Di tahun ke-3 boycott (tahun ke-10 kenabian), semakin banyak warga Mekkah yang mengecam pemboikotan dan turunlah wahyu. Allah SWT memberi tahu Rasulullah SAW bahwa surat perjanjian itu telah dimakan rayap kecuali lafadz Allah.
Rasulullah SAW memberi tahu Abu Thalib, dan Abu Thalib dengan berani dan yakin menghampiri para pemuka Quraisy. Ia menantang untuk memeriksa apakah informasi itu benar, jika salah ia akan menyerahkan Rasulullah SAW kepada mereka. Bukan karena ia lelah diboycott, tapi karena ia yakin keponakannya tidak pernah berbohong.
Setelah Kakbah dibuka untuk mengecek, benarlah bahwa surat perjanjian itu dimakan rayap kecuali lafadz Allah, akhirnya boycott berakhir.
Paman tersayang, Abu Tholib sakit keras, semakin renta, 10 tahun terakhir begitu menguras fisik dan mental beliau, beliau kelelahan melindungi keponakan tercinta.
Abu Tholib bukan sekadar paman tapi juga dinding terakhir perisai Nabi SAW dari orang Quraisy.
Sejak usia 8 tahun Rasulullah SAW tumbuh bersama Abu Tholib.
Ia sudah seperti ayah bagi Rasulullah SAW.
Di detik² terakhir, Rasulullah SAW datang menghampiri paman kesayangannya, dengan harapan ya Allah jangan ambil beliau sebelum beliau selamat.
Bayangkan perasaan Rasulullah SAW di detik terakhir wafat Sang Paman, melepaskan seseorang yang cintanya begitu luar biasa, di luar nalar.
Bahkan Abu Tholib membuat syair yang menyatakan bahwa ia telah tenggelam dalam cinta kepada Muhammad. Syair yang menggambarkan cinta yang begitu mendalam pada Rasulullah SAW sejak kecil.
Pernah Abu Tholib meminta Rasulullah SAW pindah tidur ke kasur beliau, lalu beliau tetap terjaga, beliau suruh anak²nya juga juga Rasulullah SAW. Ketika kondisi Rasulullah SAW sudah dirasa aman, beliau istirahat di tempat yang paling berbahaya, di kasur Rasulullah SAW.
Beliau menjaga Rasulullah SAW seperti menjaga anak kecil. Padahal usia Rasulullah SAW saat itu sudah 40-50 tahun.
Bayangkan betapa hancurnya Rasulullah SAW ketika Sang Paman wafat.
Pamannya tau keponakannya Nabi, tapi sedihnya tak mengimani beliau.
Abu Tholib sudah melakukan lebih dari seorang paman, dia mengorbankan dirinya demi Rasulullah SAW, dan kisah ini bukan sekadar syair, ini fakta sejarah.
Jika pakai logika dunia, maka Abu Tholib pantas mendapat surga tertinggi, namun kunci surga bukan jasa tapi kuncinya iman.
Rasulullah SAW datang ke rumah Abu Tholib bukan untuk mendapatkan harta warisan, bukan juga meminta perlindungan lagi, tapi berharap pamannya mengucapkan "Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah".
Rasulullah SAW berkata lembut pada Sang Paman,
Apa yang kau lakukan sudah cukup paman, yang aku minta kini hanya 2 kalimat untuk jadi peganganku membelamu di depan Allah SWT.
Tolong jangan pergi tanpa kalimat selamat ini, agar aku bisa memperjuangkan engkau di hadapan Allah.
Ini adalah jeritan cinta yang paling dalam.
Karena ini adalah persimpangan jalan, perpisahan sementara atau perpisahan selamanya.
Tapi di tempat yang sama ada Abu Jahal, yang selalu membantah ucapan Nabi.
Pada akhirnya hari itu jadi perpisahan selamanya, Abu Tholib tetap di agama Nenek Moyangnya.
Abu Tholib tak sanggup menghadapi apa kata orang.
Betapa perihnya hati Rasulullah SAW.
Beliau kehilangan tamengnya.
Beliau kehilangan paman di dunia dan akhirat.
Paman yang selalu menyelamatkan beliau tapi tak berhasil diselamatkan.
Seringkali ketika wanita berpikir tentang kehilangan pasangan.
"Ah kalau saya meninggal, paling suami saya menikah lagi."
Tapi ternyata faktanya gak gitu.
Kehilangan pasangan bisa meningkatkan risiko kematian suami 70% di tahun pertama.
Kehilangan pasangan bisa meningkatkan risiko kematian istri 27%.
Ini disebut Widowhood effect = a phenomenon in which older people who have lost a spouse have an increased risk of dying themselves, due to severe stress, loneliness, disrupted routines, and potential neglect of self, leading to physical and mental health issues like inflammation, heart problems, and depression.
Jika dilihat % risiko kematian laki-laki lebih tinggi dibanding wanita, menunjukkan betapa tingginya ternyata peran wanita bagi laki².
Betapa butuh dan bergantungnya laki-laki dengan kehadiran istri dalam kehidupannnya.
Broken-heart syndrome
Stress cardiomyopathy or takotsubo syndrome
= a temporary, reversible heart condition often triggered by intense emotional or physical stress (e.g., grief, accidents) that causes the left ventricle to weaken and balloon.
Butuh waktu 6 bulan - 2 tahun untuk pulih dari kehilangan pasangan.
Di antara kesedihan yang paling dalam yang pernah singgah di bumi adalah wafatnya Khadijah.
Bagi Rasulullah SAW, ini berarti hilangnya kehangatan itu.
Rasulullah SAW kehilangan sosok yang mempercayainya sepenuh hati, tatkala manusia lain mengingkarinya.
Ketika Abu Tholib meninggal, masih ada Khadijah, untuk kembali bernapas.
Namun ternyata hal itu tak berlangsung lama.
Khadijah wafat di tahun yang sama dengan usainya boikot dan Abu Tholib wafat.
Beliau wafat di usia 65 tahun. Ada yang bilang 3 hari, ada juga yang berpendapat 3 bulan setelah Abu Tholib wafat. Tapi intinya jaraknya sangat dekat.
Khadijah bukan hanya istri Sang Nabi, tapi saksi pertama saat semua mendustakan.
Khadijah mencintai Rasulullah SAW ketika semua kondisi sedang sulit.
Membela ketika hampir semua penduduk kota mencela.
Menenangkan ketika nabi pulang dengan hati terluka.
Khadijah adalah manusia pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW.
Allah SWT lapangkan hati beliau dengan kehadiran Khadijah.
Maka saat Khadijah wafat, Nabi kehilangan ruh.
Ada cinta yang selesai ketika sosoknya pergi tapi tidak dengan Khadijah, cinta Rasulullah SAW tetap lekat bahkan membuat Aisyah cemburu.
Allah tidak pernah menggantikannya dengan yang lebih baik.
Saking besarnya cinta beliau.
Dia beriman ketika yang lain kufur.
Dia percaya ketika yang lain mendustakan.
Dia mendukungku dengan hartanya
Khadijah hadir di saat orang sepi.
Justru cinta Nabi semakin tampak ketika Khadijah meninggal.
Aku tidak akan melupakan Khadijah, Rasulullah jaga selalu sahabat² Khadijah. Dengan memberikan makanan atau hadiah.
Ketika Rasulullah SAW melihat kalung Khadijah yang ingin dijadikan penebusan tawanan perang oleh Zainab, memori pada cinta pertamanya kembali.
Kenangan yang tiba² hidup kembali. Kalung tersebut mengingatkan beliau kepada Khadijah yang sangat dicintainya yang merupakan ibu dari anak-anaknya.
Bagi Rasulullah SAW, mencintai Khadijah adalah anugrah, hidup bersama, berjuang bersama, berkorban bersama, bahkan tidur beralaskan tanah bersama Khadijah adalah anugrah terindah dalam hidupnya.
Khadijah adalah sebaik²nya wanita penghuni surga.
Beliau kehilangan nyawa demi perjuangan dakwah di tahun-tahun awal.
Beliau mengorbankan semuanya, hartanya, waktunya, fisik dan mentalnya.
Beliau setia menemani perjuangan Nabi selama 25 tahun hingga akhir hayatnya.
Beliau wafat di saat kondisi sulit dan berat.
Beliau adalah tempat pulang terhangat bagi Rasulullah SAW.
Beliau adalah ruang bernapas di tengah badai.
Beliau adalah senja yang menutup hari dengan damai.
Betapa sedihnya Rasulullah SAW kehilangan kekasih yang belum pernah merasakan hasil perjuangannya dan pengorbanannya itu.
Di titik ini, kesedihan yang menyelimuti Rasulullah SAW begitu berlapis².
Hingga akhirnya Rasulullah SAW memutuskan keluar Makkah.
Beliau menuju Thaif, beliau berharap penduduk Thaif mau menerimanya.
Beliau pergi bersama anak angkatnya agar tidak mencolok, beliau berjalan kaki bersama Zaid sejauh 80-an km dari Makkah.
Apa yang terjadi di Thaif?
Apakah beliau diterima?
Tidak. Beliau dikasari, dicemooh, dilempari batu, berdarah.
Yaa Rabb... goresan kesedihan yang masih basah terasa kembali menyayat.
Dan di sini Rasulullah SAW menunjukkan keindahan akhlak beliau.
Beliau keluhkan ketidakberdayaannya dalam menghadapi manusia kepada Dia Yang Maha Kuat, Al-Qawiyyu.
Beliau tidak menghujat.
Beliau tidak melampiaskan kekecewaannya.
Beliau adukan kepada Arhamar Rahimin.
"Selama Engkau tidak marah, aku tidak peduli atas apa yang terjadi pada diriku. Hanya ridho-Mu yang aku cari."
Betapa sabar dan lemah lembut sifat beliau.
Malaikat Jibril datang dan menawarkan bantuan dari malaikat penjaga gunung.
Rasa kehilangan dan kekosongan begitu memenuhi hati beliau.
Tak ada lagi Khadijah, sang tameng jiwa; tak ada lagi Abu Tholib, sang tameng sosial.
Di saat ituah beliau berdo'a di titik nadir.
Lalu Allah angkat beliau dari bumi, naikkan beliau ke langit. Isra' Miraj.
Qolbu beliau dicuci dengan air zam-zam oleh malaikat Jibril.
Rasulullah SAW dimuliakan, dihibur, diangkat ke langit ke-7 oleh Allah SWT.
Dari tanah yang menolak (Makkah) ke tanah para Nabi (Palestine).
Beliau mengimami para Nabi.
Flash back dengan kisah beliau sebelum Isra' Miraj.
Saat berhadapan dengan Quraisy dan penduduk Thaif.
Ah dimanakah posisi Quraisy dan Thaif jika dibandingkan dengan luasnya langit? Mereka tidak ada seujung kuku.
Rasulullah SAW diangkat ke langit. Lalu bertemu:
Langit pertama. Nabi Adam AS
Langit kedua. Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS
Langit ketiga. Nabi Yusuf AS
Langit keempat. Nabi Idris AS
Langit kelima. Nabi Harun AS
Langit keenam. Nabi Musa AS
Langit ketujuh. Nabi Ibrahim AS
Setiap beliau naik, ada sambutan hangat.
Setiap Nabi menyambut dengan sapaan: Marhaban bil akhish shalih wan nabiyyish shalih "Selamat datang wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh".
Kecuali Nabi Adam AS dan Nabi Ibrahim AS menyambut dengan sapaan: Marhaban bil ibnis shalih wan nabiyyil shalih marhaban "Selamat datang wahai anak yang saleh dan nabi yang saleh".
Seolah mereka berkata kamipun pernah diuji di dunia, ditolak karena beratnya kebenaran yang disampaikan, dan engkau melanjutkan mata rantai perjuangan itu.
Sampailah Rasulullah SAW di Shidratul-Muntahâ (langit tertinggi), bertemu malaikat Jibril dengan sosok aslinya, begitu megah dengan 600 sayap.
Di titik ini, dimanakah kekuatan orang pemuka Quraisy, dimanakah rumah Abu Jahal, Abu Lahab, dan kaum kafir lainnya, semuanya sirna dengan panaroma keagungan Allah SWT. Yang lain begitu kecil tak terlihat sama sekali.
Seringkali masalah yang kita lihat besar, karena kita gak melihat dari atas, pov Allah masalah kita itu keciil.
Di Shidratul-Muntahâ, Allah memberikan hadiah.
Allah tidak mengatakan semuanya akan baik² saja dan berakhir.
Allah memberikan sholat, Allah Maha Baik karena ada kenyataan yang kita terima secara jujur, kita gak mungkin dinaikkan ke langit seperti Rasulullah SAW, tapi Allah berikan anak tangga ke langit yaitu sholat.
Sholat adalah cara kita bisa berinteraksi dengan Allah.
Jika bumi menolakku, ada langit yang menerimaku.
Sholat bukan sekadar perintah, tapi sebuah undangan spesial dari-Nya.
Sholat adalah kebutuhan; Sholat adalah obat.
Ia seperti ketenangan di tengah kebisingan.
Kita butuh sholat seperti kita butuh dengan istirahat.
Ia penyembuh bagi luka hati saat orang yang kita cintai wafat.
Seringkali ketika kita sedang dapat masalah, susah untuk menjelaskannya, maka sujudlah, sholatlah, menangislah.
Masalahmu tak perlu dijelaskan dengan kata², Allah Maha Tau.
Sholat memberikan sesuatu dalam diri yang lebih kokoh.
Sholat adalah ritme kehidupan untuk selalu kembali pada Allah.
Sholat sudah seharusnya menemani kehidupan kita.
Sholat adalah penyejuk mataku.
Ada ketenangan yang priceless dalam sholat.
Seringkali yang membuat kita hancur bukan masalah tapi bisikan.
Sholat menghadirkan kebersamaan, rasa kedekatan dengan Allah.
Dalam sholat, kita merasakan dalam menghadapi ujian dan luka kita tak sendirian.
Ada Allah.
Sesungguhnya dia yang sholat sedang bermunajat dengan Allah.
Bukan sekadar bicara, tapi curahan lirih dan intim kepada Rabbul 'Alamiin.
Sholat adalah hadiah dari Allah setelah Nabi kehilangan Abu Tholib, kehilangan Khadijah, disakiti di Thaif.
Nabi kita untuk mendapatkan sholat harus menghadapi peristiwa yang menyakitkan, kehilangan, hinaan, siksaan, begitu pilu.
Sholat hadir ketika situasi buntu.
Betapa indah hadiah dari-Nya.
Puncak jalan keluar dan pulang kepada-Nya adalah sholat.
Allah paling tau apa yang paling kita butuhkan.
Bukan menyelesaikan masalah dengan instan.
Bawalah masalahmu ke dalam sholat, agar hati kita tak hancur karena luka.
Sholat adalah ruang bicara yang tak pernah meremehkan kita.
Jangan pernah lepaskan sholat.
Jangan pernah bosan akan sholat.
Jadikan sholat sebagai teman dalam penantian.
Jika bumi menutup pintunya, maka langit membuka pelukannya.
Bersyukur bisa hadir lagi di kajian Half Deen Series tahun ini.
Pulang menuju Khadijah.
Zammiluni Zammiluni. “Selimutilah aku!”
Maka Khadijah dengan penuh kasih sayang menyelimuti Rasulullah SAW.
Khadijah bersikap teduh, hangat, melayani, tidak membombardir sang suami dengan pertanyaan.
Zammiluni Zammiluni. “Selimutilah aku!”
Maka Khadijah dengan penuh kasih sayang menyelimuti Rasulullah SAW.
Khadijah bersikap teduh, hangat, melayani, tidak membombardir sang suami dengan pertanyaan.
Setelah hilang ketakutannya, Rasulullah SAW bercerita apa yang terjadi di gua Hira.
Rasulullah SAW berkata, "Saya khawatir dengan diriku."
Khawatir akan wafat/sakit/tidak amanah dengan beban tanggung jawab berat ini.
Lalu Khadijah berkata dengan yakin, "Demi Allah, Dia tidak akan menghempaskanmu."
Kata-katanya tidak menjatuhkan. Intonasi suaranya lembut nan menguatkan. Beliau angkat moril suami.
"Engkau menyambung tali silaturahmi, engkau bantu anak yatim, engkau memuliakan tamu, engkau selalu ada ketika orang tertimpa bencana."
Lesson learned:
Kalau suami lagi down, angkat morilnya dengan cara ingatkan kebaikan²nya.
Selanjutnya Khadijah ajak Rasulullah SAW menemui Waraqah, tidak asbun atau sok tau, tapi ajak ke yang punya ilmu.
Khadijah tau cara berkomunikasi, beliau berkata ke Waraqah, "Tolong dengarkan suamiku." bukan dorong² paksa suami untuk bicara.
Ketika Nabi sedang galau, shock, ada masalah besar, maka yang didatangi adalah istri.
Lesson learned:
Refleksi bagi yang sudah menjadi istri, kamu "istri" yang seperti apa?
Saat suami baru pulang dari kantor, apa yang kamu katakan?
"Kok baru pulang?" atau "Oh, masih ingat sama yang di rumah?" atau kayak video yang ditunjukin di layar dari Senin-Jum'at mengajukan pertanyaan yang sama pas suami buka pintu rumah, "Kenapa mukanya kayak gitu?" Apa gak kzl kalau di posisi suami :')
Refleksi bagi yang sudah menjadi suami, kamu "suami" yang seperti apa?
Ketika dapat masalah di luar, yang dicari siapa/apa?
Biasanya para suami kalau lagi mumet ada masalah yang dicari adalah angin, padahal kipas angin di rumah sudah sampe 3-5 kipas. 'Angin' apa si yang dicari.
Refleksi bagi yang sudah menjadi istri, kamu "istri" yang seperti apa?
Saat suami baru pulang dari kantor, apa yang kamu katakan?
"Kok baru pulang?" atau "Oh, masih ingat sama yang di rumah?" atau kayak video yang ditunjukin di layar dari Senin-Jum'at mengajukan pertanyaan yang sama pas suami buka pintu rumah, "Kenapa mukanya kayak gitu?" Apa gak kzl kalau di posisi suami :')
Refleksi bagi yang sudah menjadi suami, kamu "suami" yang seperti apa?
Ketika dapat masalah di luar, yang dicari siapa/apa?
Biasanya para suami kalau lagi mumet ada masalah yang dicari adalah angin, padahal kipas angin di rumah sudah sampe 3-5 kipas. 'Angin' apa si yang dicari.
Sejak wahyu pertama turun, kehidupan Rasulullah SAW tak sama lagi.
Beliau lakukan dakwah sirriyah (sembunyi², tertutup, personal, terbatas kepada orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat).
Rasulullah SAW harus menerima peta telah berubah, awalnya beliau selalu berada di panggung utama kota Makkah, berubah menjadi di panggung lebih kecil/pinggiran.
Mungkin di bagian ini kita gak notice kalau baca sirah Nabawiyah, betapa lapang dadanya beliau, tetap menjalani perannya dengan sempurna meski panggungnya berubah ke level bawah.
Dari dakwah beliau di tahap awal, Abu Bakr masuk Islam, Khadijah, anak² beliau, anak angkat beliau (Zaid bin Haritsah) masuk Islam. Beliau awali dari yang terdekat dan satu atap dulu.
Setelah dakwah sirriyah, tibalah waktunya untuk dakwah terang-terangan.
Nabi kembali tampil di panggung utama dengan konstelasi yang berbeda.
Awalnya di posisi social darling berubah jadi public enemy.
Apa akibat dari dakwah terbuka itu?
Ruqayyah dan Ummu Kultsum dicerai.
Bayangkan betapa hancurnya hati Rasulullah SAW, sebagai seorang ayah.
Beliau terus-terusan difitnah, dicaci, dimaki, bahkan diancam akan dibunuh.
Beliau terus-terusan difitnah, dicaci, dimaki, bahkan diancam akan dibunuh.
Sesungguhnya serangan dengan lisan lebih menyakitkan dibanding serangan dengan senjata.
Syair lebih menyakitkan daripada anak² panah.
Bayangkan Rasulullah SAW 20 tahun dicaci maki, verbal abuse, tapi beliau tidak mengeluh, jalan terus, masya Allah.
Di masa itu, Bilal dilecehkan, diarak, hingga ditindih batu yang sangat besar; Sumayyah disiksa dengan tindakan yang begitu keji sampai wafat. Betapa terpukulnya beliau dengan apa yang dialami umatnya.
Bayangkan Rasulullah SAW 20 tahun dicaci maki, verbal abuse, tapi beliau tidak mengeluh, jalan terus, masya Allah.
Di masa itu, Bilal dilecehkan, diarak, hingga ditindih batu yang sangat besar; Sumayyah disiksa dengan tindakan yang begitu keji sampai wafat. Betapa terpukulnya beliau dengan apa yang dialami umatnya.
"Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin."
QS At Taubah: 128
Kondisi berubah, sebelum kenabian posisi beliau di level atas dari pov duniawi, setelah menjadi nabi jadi jatuh ke bawah.
Chapter 3. Ketika Semua Pintu Ditutup
Tahun ke-7 setelah kenabian.
Bayangkan, sama keluarga sendiri, diminta serahkan atau vonis mati.
Tapi Abu Tholib menolak untuk menyerahkan Rasulullah SAW.
Bayangkan, sama keluarga sendiri, diminta serahkan atau vonis mati.
Tapi Abu Tholib menolak untuk menyerahkan Rasulullah SAW.
Quraisy gagal membujuk Abu Tholib untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW.
Akhirnya Rasulullah SAW dan kaum Muslimin diboycott oleh Quraisy, keluarga sendiri.
Sosok Khadijah memutuskan keluar dari rumahnya dan melepaskan status sosialnya yang tinggi. Khadijah memilih tidur di atas tanah dibanding di atas kasur yang nyaman. Demi menemani Sang Nabi sekaligus Sang Suami, di usia beliau yang 62 tahun. Ya Rabb...
Juga Abu Tholib yang tak pernah gentar membela Rasulullah SAW, ikut merasakan terisolasi karena boycott, di usia 82 tahun.
Bayi² terdengar menangis kelaparan, semua di-cut gak ada akses, makanan minuman, jual beli, interaksi apapun tak diperkenankan, bahkan tidak boleh menikah dengan Quraisy lainnya.
Mereka sampai harus makan daun²an dalam waktu lama, yaa Rabb..
Bukan daun² sekarang seperti salad dengan topping yang enak.
Yang mereka makan adalah dedaunan liar, daun akasia, rantingnya berduri, ini makanan unta, bukan sehari dua hari. Ini ujian sangat berat selama 3 tahun.
Di tahun ke-3 boycott (tahun ke-10 kenabian), semakin banyak warga Mekkah yang mengecam pemboikotan dan turunlah wahyu. Allah SWT memberi tahu Rasulullah SAW bahwa surat perjanjian itu telah dimakan rayap kecuali lafadz Allah.
Rasulullah SAW memberi tahu Abu Thalib, dan Abu Thalib dengan berani dan yakin menghampiri para pemuka Quraisy. Ia menantang untuk memeriksa apakah informasi itu benar, jika salah ia akan menyerahkan Rasulullah SAW kepada mereka. Bukan karena ia lelah diboycott, tapi karena ia yakin keponakannya tidak pernah berbohong.
Setelah Kakbah dibuka untuk mengecek, benarlah bahwa surat perjanjian itu dimakan rayap kecuali lafadz Allah, akhirnya boycott berakhir.
Chapter 4. Tahun yang Sunyi
Beberapa bulan setelah boikot usai, ada kesedihan yang membuat langit terasa sunyi.Paman tersayang, Abu Tholib sakit keras, semakin renta, 10 tahun terakhir begitu menguras fisik dan mental beliau, beliau kelelahan melindungi keponakan tercinta.
Abu Tholib bukan sekadar paman tapi juga dinding terakhir perisai Nabi SAW dari orang Quraisy.
Ia membela dengan kehormatan dan dengan jiwa, kalimatnya seolah keluar dari darah.
"Jangan sentuh Muhammad, kalau ingin dia lewati dulu mayatku!"
"Jangan sentuh Muhammad, kalau ingin dia lewati dulu mayatku!"
Sejak usia 8 tahun Rasulullah SAW tumbuh bersama Abu Tholib.
Ia sudah seperti ayah bagi Rasulullah SAW.
Di detik² terakhir, Rasulullah SAW datang menghampiri paman kesayangannya, dengan harapan ya Allah jangan ambil beliau sebelum beliau selamat.
Bayangkan perasaan Rasulullah SAW di detik terakhir wafat Sang Paman, melepaskan seseorang yang cintanya begitu luar biasa, di luar nalar.
Bahkan Abu Tholib membuat syair yang menyatakan bahwa ia telah tenggelam dalam cinta kepada Muhammad. Syair yang menggambarkan cinta yang begitu mendalam pada Rasulullah SAW sejak kecil.
Pernah Abu Tholib meminta Rasulullah SAW pindah tidur ke kasur beliau, lalu beliau tetap terjaga, beliau suruh anak²nya juga juga Rasulullah SAW. Ketika kondisi Rasulullah SAW sudah dirasa aman, beliau istirahat di tempat yang paling berbahaya, di kasur Rasulullah SAW.
Beliau menjaga Rasulullah SAW seperti menjaga anak kecil. Padahal usia Rasulullah SAW saat itu sudah 40-50 tahun.
Bayangkan betapa hancurnya Rasulullah SAW ketika Sang Paman wafat.
Pamannya tau keponakannya Nabi, tapi sedihnya tak mengimani beliau.
Abu Tholib sudah melakukan lebih dari seorang paman, dia mengorbankan dirinya demi Rasulullah SAW, dan kisah ini bukan sekadar syair, ini fakta sejarah.
Jika pakai logika dunia, maka Abu Tholib pantas mendapat surga tertinggi, namun kunci surga bukan jasa tapi kuncinya iman.
Rasulullah SAW datang ke rumah Abu Tholib bukan untuk mendapatkan harta warisan, bukan juga meminta perlindungan lagi, tapi berharap pamannya mengucapkan "Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah".
Rasulullah SAW berkata lembut pada Sang Paman,
Apa yang kau lakukan sudah cukup paman, yang aku minta kini hanya 2 kalimat untuk jadi peganganku membelamu di depan Allah SWT.
Tolong jangan pergi tanpa kalimat selamat ini, agar aku bisa memperjuangkan engkau di hadapan Allah.
Ini adalah jeritan cinta yang paling dalam.
Karena ini adalah persimpangan jalan, perpisahan sementara atau perpisahan selamanya.
Tapi di tempat yang sama ada Abu Jahal, yang selalu membantah ucapan Nabi.
Pada akhirnya hari itu jadi perpisahan selamanya, Abu Tholib tetap di agama Nenek Moyangnya.
Abu Tholib tak sanggup menghadapi apa kata orang.
Betapa perihnya hati Rasulullah SAW.
Beliau kehilangan tamengnya.
Beliau kehilangan paman di dunia dan akhirat.
Paman yang selalu menyelamatkan beliau tapi tak berhasil diselamatkan.
Seringkali ketika wanita berpikir tentang kehilangan pasangan.
"Ah kalau saya meninggal, paling suami saya menikah lagi."
Tapi ternyata faktanya gak gitu.
Kehilangan pasangan bisa meningkatkan risiko kematian suami 70% di tahun pertama.
Kehilangan pasangan bisa meningkatkan risiko kematian istri 27%.
Ini disebut Widowhood effect = a phenomenon in which older people who have lost a spouse have an increased risk of dying themselves, due to severe stress, loneliness, disrupted routines, and potential neglect of self, leading to physical and mental health issues like inflammation, heart problems, and depression.
Jika dilihat % risiko kematian laki-laki lebih tinggi dibanding wanita, menunjukkan betapa tingginya ternyata peran wanita bagi laki².
Betapa butuh dan bergantungnya laki-laki dengan kehadiran istri dalam kehidupannnya.
Broken-heart syndrome
Stress cardiomyopathy or takotsubo syndrome
= a temporary, reversible heart condition often triggered by intense emotional or physical stress (e.g., grief, accidents) that causes the left ventricle to weaken and balloon.
Butuh waktu 6 bulan - 2 tahun untuk pulih dari kehilangan pasangan.
Di antara kesedihan yang paling dalam yang pernah singgah di bumi adalah wafatnya Khadijah.
Bagi Rasulullah SAW, ini berarti hilangnya kehangatan itu.
Rasulullah SAW kehilangan sosok yang mempercayainya sepenuh hati, tatkala manusia lain mengingkarinya.
Ketika Abu Tholib meninggal, masih ada Khadijah, untuk kembali bernapas.
Namun ternyata hal itu tak berlangsung lama.
Khadijah wafat di tahun yang sama dengan usainya boikot dan Abu Tholib wafat.
Beliau wafat di usia 65 tahun. Ada yang bilang 3 hari, ada juga yang berpendapat 3 bulan setelah Abu Tholib wafat. Tapi intinya jaraknya sangat dekat.
Khadijah bukan hanya istri Sang Nabi, tapi saksi pertama saat semua mendustakan.
Khadijah adalah tangan yang menerima Sang Nabi di segala kondisi, kehadirannya selalu menenangkan.
Allah SWT tahu betul posisi Khadijah di hati Rasulullah.
Sampai Allah SWT menyampaikan salam spesial untuk Khadijah. Ya Rabb...
Wanita macam apa yang mendapatkan salam dari Rabbul 'alamin, ar Rahman ar Rahiim. Bahkan malaikat Jibril juga ikut menyampaikan salam untuknya.
Allah SWT tahu betul posisi Khadijah di hati Rasulullah.
Sampai Allah SWT menyampaikan salam spesial untuk Khadijah. Ya Rabb...
Wanita macam apa yang mendapatkan salam dari Rabbul 'alamin, ar Rahman ar Rahiim. Bahkan malaikat Jibril juga ikut menyampaikan salam untuknya.
Untuk Ibunda kita, Khadijah, Allah SWT janjikan istana yang tenang dan tidak ada kegaduhan kelak di surga. Allah ST berikan itu karena Khadijah tak pernah bersuara tinggi, tak pernah membantah, tak pernah melawan selama 25 tahun pernikahan.
Istananya di surga sesuai dengan apa yang beliau lakukan di dunia.
Istananya di surga sesuai dengan apa yang beliau lakukan di dunia.
Khadijah mencintai Rasulullah SAW ketika semua kondisi sedang sulit.
Membela ketika hampir semua penduduk kota mencela.
Menenangkan ketika nabi pulang dengan hati terluka.
Khadijah adalah manusia pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW.
Allah SWT lapangkan hati beliau dengan kehadiran Khadijah.
Maka saat Khadijah wafat, Nabi kehilangan ruh.
Ada cinta yang selesai ketika sosoknya pergi tapi tidak dengan Khadijah, cinta Rasulullah SAW tetap lekat bahkan membuat Aisyah cemburu.
Allah tidak pernah menggantikannya dengan yang lebih baik.
Saking besarnya cinta beliau.
Dia beriman ketika yang lain kufur.
Dia percaya ketika yang lain mendustakan.
Dia mendukungku dengan hartanya
Khadijah hadir di saat orang sepi.
Justru cinta Nabi semakin tampak ketika Khadijah meninggal.
Aku tidak akan melupakan Khadijah, Rasulullah jaga selalu sahabat² Khadijah. Dengan memberikan makanan atau hadiah.
Ketika Rasulullah SAW melihat kalung Khadijah yang ingin dijadikan penebusan tawanan perang oleh Zainab, memori pada cinta pertamanya kembali.
Kenangan yang tiba² hidup kembali. Kalung tersebut mengingatkan beliau kepada Khadijah yang sangat dicintainya yang merupakan ibu dari anak-anaknya.
Bagi Rasulullah SAW, mencintai Khadijah adalah anugrah, hidup bersama, berjuang bersama, berkorban bersama, bahkan tidur beralaskan tanah bersama Khadijah adalah anugrah terindah dalam hidupnya.
Khadijah adalah sebaik²nya wanita penghuni surga.
Beliau kehilangan nyawa demi perjuangan dakwah di tahun-tahun awal.
Beliau mengorbankan semuanya, hartanya, waktunya, fisik dan mentalnya.
Beliau setia menemani perjuangan Nabi selama 25 tahun hingga akhir hayatnya.
Beliau wafat di saat kondisi sulit dan berat.
Beliau adalah tempat pulang terhangat bagi Rasulullah SAW.
Beliau adalah ruang bernapas di tengah badai.
Beliau adalah senja yang menutup hari dengan damai.
Betapa sedihnya Rasulullah SAW kehilangan kekasih yang belum pernah merasakan hasil perjuangannya dan pengorbanannya itu.
Di titik ini, kesedihan yang menyelimuti Rasulullah SAW begitu berlapis².
Chapter 5. Pulang Membawa Luka
Sepeninggal Abu Thalib dan Khadijah, gangguan Quraisy semakin menjadi-jadi.Hingga akhirnya Rasulullah SAW memutuskan keluar Makkah.
Beliau menuju Thaif, beliau berharap penduduk Thaif mau menerimanya.
Beliau pergi bersama anak angkatnya agar tidak mencolok, beliau berjalan kaki bersama Zaid sejauh 80-an km dari Makkah.
Apa yang terjadi di Thaif?
Apakah beliau diterima?
Tidak. Beliau dikasari, dicemooh, dilempari batu, berdarah.
Yaa Rabb... goresan kesedihan yang masih basah terasa kembali menyayat.
Dan di sini Rasulullah SAW menunjukkan keindahan akhlak beliau.
Beliau keluhkan ketidakberdayaannya dalam menghadapi manusia kepada Dia Yang Maha Kuat, Al-Qawiyyu.
Beliau tidak menghujat.
Beliau tidak melampiaskan kekecewaannya.
Beliau adukan kepada Arhamar Rahimin.
"Selama Engkau tidak marah, aku tidak peduli atas apa yang terjadi pada diriku. Hanya ridho-Mu yang aku cari."
Betapa sabar dan lemah lembut sifat beliau.
Malaikat Jibril datang dan menawarkan bantuan dari malaikat penjaga gunung.
Namun beliau tolak. Beliau bahkan berdo'a untuk keturunan Thaif.
“(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.”
(HR Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim)
“(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.”
(HR Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim)
Chapter 6. Undangan dari Langit
Pulang dari Thaif adalah saat paling sunyi.Rasa kehilangan dan kekosongan begitu memenuhi hati beliau.
Tak ada lagi Khadijah, sang tameng jiwa; tak ada lagi Abu Tholib, sang tameng sosial.
Di saat ituah beliau berdo'a di titik nadir.
Lalu Allah angkat beliau dari bumi, naikkan beliau ke langit. Isra' Miraj.
"Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
QS Al Isra: 1
Hanya dengan izin Allah, yang mampu menjadikan perjalanan di malam hari dalam semalam.
Bukan sekadar perjalanan geografis, tapi dari sempitnya dunia ke maha luasan Allah.
Bukan sekadar perjalanan geografis, tapi dari sempitnya dunia ke maha luasan Allah.
Qolbu beliau dicuci dengan air zam-zam oleh malaikat Jibril.
Rasulullah SAW dimuliakan, dihibur, diangkat ke langit ke-7 oleh Allah SWT.
Dari tanah yang menolak (Makkah) ke tanah para Nabi (Palestine).
Beliau mengimami para Nabi.
Flash back dengan kisah beliau sebelum Isra' Miraj.
Saat berhadapan dengan Quraisy dan penduduk Thaif.
Ah dimanakah posisi Quraisy dan Thaif jika dibandingkan dengan luasnya langit? Mereka tidak ada seujung kuku.
Rasulullah SAW diangkat ke langit. Lalu bertemu:
Langit pertama. Nabi Adam AS
Langit kedua. Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS
Langit ketiga. Nabi Yusuf AS
Langit keempat. Nabi Idris AS
Langit kelima. Nabi Harun AS
Langit keenam. Nabi Musa AS
Langit ketujuh. Nabi Ibrahim AS
Setiap beliau naik, ada sambutan hangat.
Setiap Nabi menyambut dengan sapaan: Marhaban bil akhish shalih wan nabiyyish shalih "Selamat datang wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh".
Kecuali Nabi Adam AS dan Nabi Ibrahim AS menyambut dengan sapaan: Marhaban bil ibnis shalih wan nabiyyil shalih marhaban "Selamat datang wahai anak yang saleh dan nabi yang saleh".
Seolah mereka berkata kamipun pernah diuji di dunia, ditolak karena beratnya kebenaran yang disampaikan, dan engkau melanjutkan mata rantai perjuangan itu.
Sampailah Rasulullah SAW di Shidratul-Muntahâ (langit tertinggi), bertemu malaikat Jibril dengan sosok aslinya, begitu megah dengan 600 sayap.
Di titik ini, dimanakah kekuatan orang pemuka Quraisy, dimanakah rumah Abu Jahal, Abu Lahab, dan kaum kafir lainnya, semuanya sirna dengan panaroma keagungan Allah SWT. Yang lain begitu kecil tak terlihat sama sekali.
Seringkali masalah yang kita lihat besar, karena kita gak melihat dari atas, pov Allah masalah kita itu keciil.
Di Shidratul-Muntahâ, Allah memberikan hadiah.
Allah tidak mengatakan semuanya akan baik² saja dan berakhir.
Allah memberikan sholat, Allah Maha Baik karena ada kenyataan yang kita terima secara jujur, kita gak mungkin dinaikkan ke langit seperti Rasulullah SAW, tapi Allah berikan anak tangga ke langit yaitu sholat.
Sholat adalah cara kita bisa berinteraksi dengan Allah.
Jika bumi menolakku, ada langit yang menerimaku.
Sholat bukan sekadar perintah, tapi sebuah undangan spesial dari-Nya.
Sholat adalah kebutuhan; Sholat adalah obat.
Ia seperti ketenangan di tengah kebisingan.
Kita butuh sholat seperti kita butuh dengan istirahat.
Ia penyembuh bagi luka hati saat orang yang kita cintai wafat.
Seringkali ketika kita sedang dapat masalah, susah untuk menjelaskannya, maka sujudlah, sholatlah, menangislah.
Masalahmu tak perlu dijelaskan dengan kata², Allah Maha Tau.
Sholat memberikan sesuatu dalam diri yang lebih kokoh.
Sholat adalah ritme kehidupan untuk selalu kembali pada Allah.
Sholat sudah seharusnya menemani kehidupan kita.
Sholat adalah penyejuk mataku.
Ada ketenangan yang priceless dalam sholat.
Seringkali yang membuat kita hancur bukan masalah tapi bisikan.
Sholat menghadirkan kebersamaan, rasa kedekatan dengan Allah.
Dalam sholat, kita merasakan dalam menghadapi ujian dan luka kita tak sendirian.
Ada Allah.
Sesungguhnya dia yang sholat sedang bermunajat dengan Allah.
Bukan sekadar bicara, tapi curahan lirih dan intim kepada Rabbul 'Alamiin.
Kita bisa menangis tanpa dianggap lemah.
Kita berhadapan dengan Dia Yang Maha Mendengar.
Sholat adalah hadiah dari Allah setelah Nabi kehilangan Abu Tholib, kehilangan Khadijah, disakiti di Thaif.
Nabi kita untuk mendapatkan sholat harus menghadapi peristiwa yang menyakitkan, kehilangan, hinaan, siksaan, begitu pilu.
Sholat hadir ketika situasi buntu.
Betapa indah hadiah dari-Nya.
Puncak jalan keluar dan pulang kepada-Nya adalah sholat.
Allah paling tau apa yang paling kita butuhkan.
Bukan menyelesaikan masalah dengan instan.
Bawalah masalahmu ke dalam sholat, agar hati kita tak hancur karena luka.
Sholat adalah ruang bicara yang tak pernah meremehkan kita.
Jangan pernah lepaskan sholat.
Jangan pernah bosan akan sholat.
Jadikan sholat sebagai teman dalam penantian.
Jika bumi menutup pintunya, maka langit membuka pelukannya.
Allah ingin kita kembali kepada-Nya, bersandar hanya kepada-Nya.
"Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang yang bersujud (sholat), dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu."
(QS Al Hijr: 97-99)
--------------------
Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah.Bersyukur bisa hadir lagi di kajian Half Deen Series tahun ini.
Kajian yang indah nan menyentuh, dan terasa relate dengan kondisi sehari-hari.
Ustadz Nuzul dan tim bener-bener all out memberikan sajian ilmu, semua hal detail disiapkan untuk para penuntut ilmu. Visual, lighting, dan sound venue mendukung banget.
Seperti yang sering Ustadz Nuzul sampaikan dalam kajiannya, beliau buktikan di sini. Muslim itu bermainnya di level tertinggi, harus memberikan yang terbaik.
Closing kajiannya bener-bener deep bikin nangis ampe nge-blur pandangan.
Closing kajiannya bener-bener deep bikin nangis ampe nge-blur pandangan.
Diksinya...masya Allah sangat menggugah jiwa, selama ini kita tau sholat itu penting tapi karena sudah menjadi rutinitas rasanya semakin hambar, dan di kajian ini Ustadz Nuzul menghidupkan rasa rindu sholat itu kembali.
Selain itu kita juga dapat bonus, ada beberapa paviliun di sekitar hall utama yang didesain khusus sesuai namanya. Instalasi yang dipasang menjadikannya zona experience yang menghadirkan rasa, menyentuh hati setiap yang masuk ke dalamnya.
- Sister Space: ada beberapa pertanyaan dengan jawaban, kita diminta memilih mana yang paling ngena di hati. Tidak ada jawaban benar/salah, intinya di sini terasa seperti dipukpuk, zona yang memahami bahwa wanita itu ingin dimengerti
- Muhajir Project Tilawah: di sini kita diajak merasakan kembali Al-Fatihah, kita diajak refleksi kenapa selama ini sholat terasa seperti tugas, hati kemana-mana. Sudahkah Al-Fatihah menenangkan hati selama ini?
- LAZ Muhajir: jika sholat adalah cara Allah memberikan kebahagiaan untuk kita, maka zakat adalah cara kita untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain
- Muhajir Project Janaiz: masuk ke dalam sini ada banyak helaian kain putih menjuntai, kain kafan. Ruangan yang didesain seperti lubang kubur dengan suara-suara pekikan, yaa Rabb sudahkah hati ini siap dengan pertanyaan alam kubur?
- Muhajir Project Peduli: lorong panjang, gelap, terjal berbatu, lalu di ujung lorong muncullah cahaya terang. Kita diingatkan seperti inilah kehidupan dan perjuangan ujian. Sabar dan sholat menjadi kekuatan dalam menjalani ujian.
Jazaakumullahu khairan Ustadzuna dan tim Half Deen🤍🤍🤍


0 Komentar