Nikmat taufik.
Nikmat petunjuk-Nya.
Nikmat ketika Allah menggerakkan hati kita untuk beribadah di bulan Ramadhan, untuk sholat, puasa, membaca Al-Qur'an, qiyamulail, sedekah, itulah nikmat terbesar.
Kenapa kita diperintahkan untuk bertakbir di hari raya?
“Dan hendaknya kamu bertakbir mengagungkan nama Allah atas hidayah yang diberikan padamu dan semoga kamu bersyukur.”
Nikmat ketika Allah menggerakkan hati kita untuk beribadah di bulan Ramadhan, untuk sholat, puasa, membaca Al-Qur'an, qiyamulail, sedekah, itulah nikmat terbesar.
Kenapa kita diperintahkan untuk bertakbir di hari raya?
“Dan hendaknya kamu bertakbir mengagungkan nama Allah atas hidayah yang diberikan padamu dan semoga kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Kita bertakbir..
Karena hidayah yang Allah berikan selama satu bulan penuh.
Karena Allah memberikan kemudahan beribadah tanpa halangan.
Karena kita bisa puasa, tarawih, qiyamulail, dan sedekah tanpa pikir panjang, itulah hidayah.
Oleh karena itu, ketika kita bertakbir, harus di atas kesadaran penuh bahwa yang membuat kita bahagia bukan harta, tahta, popularitas, tapi hidayah dari Allah, dan bukan juga orang-orang di sekeliling kita, walaupun itu adalah support system yang baik.
Bukankah dulu ada di antara kita yang tidak mengenal Ramadan dengan baik?
Kita menjalani Ramadan tanpa ada rasa, lewat begitu saja.
Kita bertakbir..
Karena hidayah yang Allah berikan selama satu bulan penuh.
Karena Allah memberikan kemudahan beribadah tanpa halangan.
Karena kita bisa puasa, tarawih, qiyamulail, dan sedekah tanpa pikir panjang, itulah hidayah.
Oleh karena itu, ketika kita bertakbir, harus di atas kesadaran penuh bahwa yang membuat kita bahagia bukan harta, tahta, popularitas, tapi hidayah dari Allah, dan bukan juga orang-orang di sekeliling kita, walaupun itu adalah support system yang baik.
Bukankah dulu ada di antara kita yang tidak mengenal Ramadan dengan baik?
Kita menjalani Ramadan tanpa ada rasa, lewat begitu saja.
Ramadan menjadi ritual tanpa kesadaran; tak ada ikatan hati dengan Ramadan.
Tapi saat ini dengan orang yang sama, Ramadan terasa berbeda.
Tapi saat ini dengan orang yang sama, Ramadan terasa berbeda.
Ramadan begitu ditunggu-tunggu.
Ketika Ramadan pergi, hati terasa sendu.
Ada bagian penting dalam diri yang terasa hilang.
Ramadan kali ini begitu nikmat; terasa suasana keindahan dan keberkahan di hari-harinya.
Rasanya begitu bahagia bisa berbagi makanan berbuka.
Ramadan kali ini begitu nikmat; terasa suasana keindahan dan keberkahan di hari-harinya.
Rasanya begitu bahagia bisa berbagi makanan berbuka.
Rasanya begitu nikmat bisa sujud dan berdoa lama-lama.
Khusyuk, meneteskan air mata.
Dulu sholat terasa berat, hanya sekadar formalitas, hanya untuk mencari validitas manusia.
Dulu masjid terasa jauh, meskipun lokasinya di pelupuk mata.
Tapi hari ini Allah menggerakkan orang yang sama untuk menjaga salat lima waktu, bahkan rawatib, dhuha juga dijaga, bahkan memperjuangkan qiyamulail di 10 malam terakhir.
Dulu menginjakkan kaki di masjid saja begitu enggan, namun kini hati begitu rindu jika melewatkan kesempatan beribadah di masjid.
Dulu membuka mushaf saja tak pernah.
Dulu sholat terasa berat, hanya sekadar formalitas, hanya untuk mencari validitas manusia.
Dulu masjid terasa jauh, meskipun lokasinya di pelupuk mata.
Tapi hari ini Allah menggerakkan orang yang sama untuk menjaga salat lima waktu, bahkan rawatib, dhuha juga dijaga, bahkan memperjuangkan qiyamulail di 10 malam terakhir.
Dulu menginjakkan kaki di masjid saja begitu enggan, namun kini hati begitu rindu jika melewatkan kesempatan beribadah di masjid.
Dulu membuka mushaf saja tak pernah.
Begitu malas rasanya mendekati Al-Qur'an.
Hari-hari dilewati tanpa kalamullah.
Tak ada keakraban dengan firman Allah. Asing.
Namun, hari ini orang yang sama justru membuka mushaf setiap hari.
Namun, hari ini orang yang sama justru membuka mushaf setiap hari.
Bahkan belajar membaca dengan baik.
Hatinya mulai hidup dengan Al-Qur'an.
Bahkan Allah muliakan dengan bisa khatam.
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Allāhu akbar wa lillāhil hamd.
Apa rahasia dari perubahan-perubahan itu?
Bukan semata-mata kita lebih kuat, lebih sehat, lebih cerdas. Bukan itu semua.
Bahkan sebaliknya, hari ini kita lebih lemah, lebih berumur, lebih mudah sakit, lebih ringkih.
Namun, masalahnya bukan fisik, bukan pula harta.
Masalahnya adalah hidayah.
Ibadah kita kini lebih baik, hati mudah tersentuh, air mata mudah menetes, itu murni karena hidayah.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Allāhu akbar wa lillāhil hamd.
Apa rahasia dari perubahan-perubahan itu?
Bukan semata-mata kita lebih kuat, lebih sehat, lebih cerdas. Bukan itu semua.
Bahkan sebaliknya, hari ini kita lebih lemah, lebih berumur, lebih mudah sakit, lebih ringkih.
Namun, masalahnya bukan fisik, bukan pula harta.
Masalahnya adalah hidayah.
Ibadah kita kini lebih baik, hati mudah tersentuh, air mata mudah menetes, itu murni karena hidayah.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang.
(QS. Ar-Rad: 28)
Inilah nikmat yang diperjuangkan oleh orang-orang saleh.
Dengan harta, darah, bahkan nyawa mereka.
Mengapa Bilal kuat?
Bilal tahu hidayah itu mahal untuk didapatkan.
Bilal tahu hidayah itu layak diperjuangkan.
Ia pegang teguh hidayah melawan siksaan di bawah sengatan sinar matahari yang terik, tindihan batu yang berat, cambukan yang menyayat.
Inilah nikmat yang diperjuangkan oleh orang-orang saleh.
Dengan harta, darah, bahkan nyawa mereka.
Mengapa Bilal kuat?
Bilal tahu hidayah itu mahal untuk didapatkan.
Bilal tahu hidayah itu layak diperjuangkan.
Ia pegang teguh hidayah melawan siksaan di bawah sengatan sinar matahari yang terik, tindihan batu yang berat, cambukan yang menyayat.
Rasa sakit dunia begitu kecil dan ringan baginya.
Masalahnya bukan karena Allah tidak memberikan hidayah kepada kita.
Bukan.
Tapi masalah terbesarnya adalah apakah kita bisa mensyukuri hidayah tersebut.
Bisakah hidayah itu bertahan setelah Ramadan?
😭😭😭
Apa yang harus kita lakukan?
Bukan.
Tapi masalah terbesarnya adalah apakah kita bisa mensyukuri hidayah tersebut.
Bisakah hidayah itu bertahan setelah Ramadan?
😭😭😭
Apa yang harus kita lakukan?
1. Kita harus meminta, meminta, dan meminta pertolongan Allah agar hidayah itu dijaga Allah
Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbi 'alaa diinika."Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas Agama-Mu."
Yaa musharrifal quluub shorrif quluubanaa ‘ala thaa’athika
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkan hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu."
Akhir Ramadan bukan akhir dari ibadah.
Akhir ibadah adalah kematian.
Akhir ibadah bukan 1 Syawal.
Berdo'alah kepada Allah agar hati kita tak dibalikan setelah segala kenikmatan itu.
Berdo'alah agar hati kita tak digelincirkan ke kondisi lalai.😭
Berdo'alah agar tetap bisa menikmati puasa, menikmati sholat, menikmati qiyam, hati terpaut dengan masjid.
Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaytana wa hab lana min ladunka rahmah innaka antal-wahhab.
Berdo'alah agar tetap bisa menikmati puasa, menikmati sholat, menikmati qiyam, hati terpaut dengan masjid.
Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaytana wa hab lana min ladunka rahmah innaka antal-wahhab.
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkaulah Maha Pemberi."
(QS Ali-Imran: 8)
(QS Ali-Imran: 8)
2. Jangan tukar hidayah dengan dunia
Silakan kaya di dunia, tapi jangan masukkan dunia di hati.Iman bisa terkikis karena pergaulan, karir, bisnis, pekerjaan, awalnya hanya ingin diterima manusia lalu prinsip-prinsip agama mulai dijual, lalu kita tukar hidayah itu dengan dunia😭😭😭
Padahal yang dilakukan Nabi dan para sahabat adalah menukar dunia dengan hidayah. Mereka tahu betapa priceless-nya hidayah.
3. Syukurilah hidayah
Dengan melakukan pengorbanan.Bukankah untuk menikmati Ramadan kita perlu pengorbanan?
Kita mengorbankan waktu istirahat, waktu kerja, waktu santai, juga mengorbankan harta.
Lalu apa yang kita rasakan?
Kenikmatan berlapis kenikmatan.
Maka lakukan juga di bulan Syawal; lakukan di bulan-bulan setelah Ramadan.
Hidayah butuh pengorbanan. Hidayah tidak gratis.
Ketahuilah, yang Allah tawarkan adalah surga, sesuatu yang mahal, tidak murah, itulah surga!
Maka berikanlah pengorbanan kita.
Sering kali kita kalah dan hidayah itu lepas.
Jangan sampai kita terlihat sebagai hamba Ramadhan karena hanya semangat beribadah di bulan Ramadhan.
Kita adalah hamba Allah.
Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadan.
Allah kita di bulan Syawal adalah Allah kita di bulan Ramadan.
Allah kita di bulan-bulan berikutnya adalah Allah kita di bulan Ramadan.
Maka tetaplah semangat beribadah di bulan-bulan setelah Ramadan seperti di bulan Ramadan.
Yaa Allah tolong kami😭🤲
Izinkan kami merasakan manisnya hidayah, manisnya ibadah, tenggelam hanyut dalam lantunan ayat-ayat-Mu terus menerus hingga setelah Ramadan😭🤲
Ini momentum untuk kembali melihat hakikat kehidupan.
Keberhasilan itu adalah hidup di atas hidayah dan meninggal di atas hidayah.
Kita mengorbankan waktu istirahat, waktu kerja, waktu santai, juga mengorbankan harta.
Lalu apa yang kita rasakan?
Kenikmatan berlapis kenikmatan.
Maka lakukan juga di bulan Syawal; lakukan di bulan-bulan setelah Ramadan.
Hidayah butuh pengorbanan. Hidayah tidak gratis.
Ketahuilah, yang Allah tawarkan adalah surga, sesuatu yang mahal, tidak murah, itulah surga!
Maka berikanlah pengorbanan kita.
Sering kali kita kalah dan hidayah itu lepas.
Jangan sampai kita terlihat sebagai hamba Ramadhan karena hanya semangat beribadah di bulan Ramadhan.
Kita adalah hamba Allah.
Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadan.
Allah kita di bulan Syawal adalah Allah kita di bulan Ramadan.
Allah kita di bulan-bulan berikutnya adalah Allah kita di bulan Ramadan.
Maka tetaplah semangat beribadah di bulan-bulan setelah Ramadan seperti di bulan Ramadan.
Yaa Allah tolong kami😭🤲
Izinkan kami merasakan manisnya hidayah, manisnya ibadah, tenggelam hanyut dalam lantunan ayat-ayat-Mu terus menerus hingga setelah Ramadan😭🤲
Ini momentum untuk kembali melihat hakikat kehidupan.
Keberhasilan itu adalah hidup di atas hidayah dan meninggal di atas hidayah.
[Sumber: Khutbah Idul Fitri 1447H - Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri]


0 Komentar