بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Sudah sekitar 5 bulan masyarakat dunia berjuang menghadapi Coronavirus. Di Indonesia sendiri mungkin baru terdengar gaungnya sekitar 2 bulan terakhir. Dan rasanya begitu berat bagi kita semua.

Berita buruk silih berganti datang. Saat masih ke kantor, membahas Coronavirus. Saat mulai work from home (WFH) #dirumahaja, hampir semua media memberitakan Coronavirus. Keluar rumah sebentar, juga pada ngobrolin Coronavirus. 

Dan sebagian besar informasi yang kulihat dan dengar adalah info yang membuat semakin cemas dan sedih.

Tim medis yang kekurangan APD dan berguguran satu-per-satu, jumlah orang yang terinfeksi dan meninggal meningkat drastis di seluruh dunia, banyak orang yang di-PHK, dan aku yakin teman-teman juga memiliki daftar panjang kabar yang membuat semakin khawatir.

Ya Allah... Apakah hanya kesulitan dan keburukan yang dibawa oleh Coronavirus?

Bahkan saat awal-awal mulai WFH, aku merasa sangat tidak produktif. Sering terdistraksi dengan media sosial. Beberapa kali merasa helpless. Merasa bersalah bisa #dirumahaja sedangkan banyak orang di luar sana yang berjuang. Hingga rasanya sempat mengalami gangguan psikosomatis, batuk-batuk disertai dada sakit dan agak sesak.

Ya Allah... Sampai kapan ini akan berlangsung? Akankah physical distancing ini menjadi a new normal? Ya Rabb, kuatkan dan lapangkan hati kami.

Sejak gejala gangguan psikosomatis itu muncul, aku mulai membatasi diri membuka media sosial. Berusaha untuk fokus ke hal-hal positif dan pada apa yang bisa aku lakukan untuk bisa tetap bermanfaat. Aku berusaha menyimak kajian yang membuat hati lebih tenang. Lebih rajin melakukan aktivitas fisik, seperti beres-beres rumah atau bersepeda keliling kompleks. Dan mulai mencari tahu hubungan antara Mental Health and Qur’an.

Hingga ada satu artikel yang menarik perhatianku, judulnya “World Mental Health Day: 10 essential Tips from the Qur’an and Hadith” dan Allah سبحانه و تعالى tunjukkan padaku ayat ini:

For indeed, with [every] hardship, there is relief. Indeed, with [every] hardship, there is relief” (Qur’an, 94:5-6).

Masya Allah... Alhamdulillah... Rasanya ada selimut yang nyaman menyelubungi hatiku saat membaca ayat tersebut, I feel Allah is talking to me. Allah menenangkan hatiku dengan kata-kata-Nya. Alhamdulillah.

Teringat Ustaz Nouman juga pernah membahas ini di salah satu Khutbah Jumat beliau. Aku pun mencoba menyimak lagi kajian tersebut.

Kita diajak untuk menyelami Surah Al-Insyirah, terutama 2 ayat ini:

 فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا    (Surah Al-Insyirah Q.S. 94:5)

Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا     (Surah Al-Insyirah Q.S. 94:6)

 sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan

Beberapa poin penting yang aku dapatkan dari video itu adalah:

  • Secara tata bahasa Arab, kata “kemudahan” lebih dulu digunakan dibandingkan kata “kesulitan”. Ustaz Nouman menerjemahkan ayat itu dengan: “Great ease comes with difficulty.” Itu artinya Allah menginginkan kita fokus pada kemudahan, bukan kesulitan. Meskipun kini kita belum merasakan kemudahan, kita harus yakin itu ada, karena Allah menjamin bahwa kita akan melewati setiap kesulitan bersama dengan kemudahan.
  • Kesulitan ada berbagai macam, seperti dalam hal: keuangan, kesehatan fisik, kesehatan emosional, dll. Kita bisa dengan mudah mengenali semua kesulitan kita. Lalu bagaimana dengan kemudahan? Ternyata Allah bilang bahwa kemudahan lebih besar dibanding kesulitan! Dan seringkali kita tidak mengenali kemudahan-kemudahan itu. Kemudahan itu sebuah misteri. Bagaimana caranya agar kita menyadarinya? Jangan fokus pada kesulitan saja, because invisible ease is coming from nowhere! Masya Allah.
  • Allah tahu kalau kita suka ragu bahwa kemudahan itu datangnya bersamaan dengan kesulitan. Kalau sedang menghadapi masalah biasanya kita langsung yakin, “Ya Allah ini masalahku berat banget, kayaknya masalahku lebih besar dari masalah siapapun.” Di sisi lain, kita merasa ragu bahwa ini akan berakhir, kadang kita putus harapan, bad mood, lebih banyak memikirkan hal negatif daripada positif. Jadi Allah gunakan kata “Inna” untuk menghilangkan keraguan kita.
  • Di beberapa terjemahan Al-Qur’an yang sering kita temui, ada yang menerjemahkan dengan: “setelah kesulitan ada kemudahan”. Tapi sesungguhnya Allah tidak bilang gitu, Allah bilang bersama bukan setelah. Maknanya beda banget! Jadi pada waktu yang bersamaan ketika Allah menutup 1 pintu untuk kita, maka ada lebih dari 1 pintu lain yang terbuka untuk kita, bisa jadi 20 pintu, bahkan tak terhingga jumlahnya. Allahu Akbar.

Setelah menyaksikan ulang video itu, aku ulang-ulang membaca Surat Al-Insyirah dalam setiap sholat, dan masya Allah, perlahan rasa sakit di dada tidak terasa lagi. Benar ya teman-teman, Al-Qur’an adalah syifa (penyembuh)

Aku merasa makna ayat tersebut pas banget dengan kondisi kita semua di kala pandemi ini. Jangan fokus pada kesulitan yang kita hadapi, tetaplah produktif dan kita harus yakin ada kemudahan yang Allah berikan di tengah pandemi ini.


Tak lama setelah membaca artikel itu, Allah سبحانه و تعالى menunjukkan padaku sebuah video yang menarik melalui seorang teman di grup Komunitas Nouman Ali Khan.

"The Earth is self-healing thanks to Corona Virus"


Bagiku, video ini membuatku sangat terharu. Indah banget rencana Allah سبحانه و تعالى. Rasanya 2 ayat Al-Inshirah tadi pas banget jadi back sound video itu.

Ah, selama ini aku hanya memikirkan diri sendiri. Merasa kesulitan dari sudut pandang “aku” saja. Ternyata ada begitu banyak kemudahan yang Allah turunkan lewat pandemi ini.

Allah ingin memberi kesempatan bagi bumi untuk menyembuhkan diri. 

Saat makhluk berukuran nanometer ini membuat kita harus saling menjaga jarak #dirumahaja. Di saat yang sama bumi sedang memulihkan dirinya sendiri. 

Bahkan setelah dari satu video itu, Allah menunjukkan padaku banyak lagi sumber yang bertema Coronavirus ini berakibat baik pada lingkungan planet tempat kita tinggal ini.

Foto dari satelit NASA menunjukkan perbaikan kualitas udara, langit di kota-kota berpolusi kini jadi biru dan cerah. Para pemerhati lingkungan mengatakan bahwa jumlah konsumsi kemasan plastik menurun karena semakin banyak orang yang memilih memasak sendiri di rumah. Hingga di beberapa negara melaporkan bahwa berbagai binatang liar “mengambil alih” jalanan yang lengang. 

Satu-per-satu kemudahan Allah tampakkan di tengah pandemi ini. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Dan kemudahan yang Allah janjikan itu tak terbatas dan di luar ekspektasi kita. Masya Allah.

Jika bumi bisa bicara, mungkin ia akan mengucapkan “Terima kasih” pada Coronavirus.

Itu tadi baru beberapa sisi positif di balik pandemi ini. 

Aku yakin ada banyak lagi hikmah di balik ini semua. 

Allah سبحانه و تعالى knows the best for us.

Semoga Allah kuatkan kita untuk menghadapi masa-masa sulit ini.

Semoga Allah lembutkan hati kita agar peristiwa ini jadi pelajaran untuk bersikap lebih bijaksana pada bumi.

Aamiin yaa Mujiib.


Sumber Video Refleksi :  A Life of Ease - Khutbah by Nouman Ali Khan


Tulisan ini juga di-publish di blog Komunitas Nouman Ali Khan Indonesia.

Tags: Nouman Ali Khan

Posting Komentar

0 Komentar

Langsung ke konten utama