Beri aku wasiyyah, bukan kritikan


Bismillahirrahmaannirrahiim

Tulisan ini dibuat dalam rangka ikut berkontribusi di program My Favorite Ayat yang diadakan oleh Komunitas Nouman Ali Khan Indonesia dan juga sekaligus menjadi bagian dari Gerakan Menulis dengan tema #BerkataBaikAtauDiam yang diadakan oleh Komunitas Berlatih Menulis untuk perempuan #ODOPfor99days.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Aku suka, tapi... bla bla bla…"
"Masya Allah, ide kamu bagus, tapi... bla bla bla…"
"Keren sih, tapi menurutku seharusnya dia begini, bukan begitu."
😰😰😰

Ada yang pernah juga kah mendapat komentar seperti itu?
Rasanya kita sekarang hidup di era yang penuh dengan kritikan, awalnya terlihat memuji atau tampak setuju, tapi ternyata ujung-ujungnya ada kalimat yang lebih panjaang “you know it”… Era sekarang sangat mendukung semua orang bebas mengeluarkan opininya, bahkan kadang seolah-olah lupa dengan etika. Dan ketika seseorang mengeluarkan suatu pendapat, maka orang lain akan terpancing untuk mengatakan pendapat lainnya, dan terus menerus seperti rantai yang tak terputus. Bahkan ada pepatah Arab mengatakan:
"Li-kulli khitab jawab" (Every time somebody voices an opinion, somebody's got something counter to say)

Semuanya diberi komentar, semuanya dikritik, dari produk-produk jualan on line, film/buku, video di youtube, hingga account medsos para seleb, jadi sasaran empuk banget! Coba deh sekali-kali iseng melihat bagian komentar (jangan terlalu lama tapi ya melihatnya, nanti jadi pusing/mual bahkan bisa tergoda ikut berkomentar), duh harus banyak-banyak istighfar setelah membacanya. Entah apa yang ada di dalam pikiran dan hati pembuat komentar-komentar tersebut, ada beberapa yang terasa sangat tidak etis, menyakitkan, dan "mengerikan". Bahkan beberapa orang berkelit dengan mengatakan:
"Ini adalah kritik yang membangun." atau "Aku mengkritik agar dia sadar/berubah jadi lebih baik."

Fenomena kritikan tadi mengingatkanku pada buku “Revive Your Heart” (Nouman Ali Khan). Buku tersebut berisi pilihan ceramah-ceramah ust. Nouman Ali Khan yang mengajak kita melakukan transformasi spiritual. Ada bab khusus yang membahas tentang kritikan.

Surat yang dikaji lebih dalam di bab tersebut adalah surat al-'Asr.
Aku yakin sebagian besar muslim telah menghafal surat tersebut, bahkan termasuk salah satu surat favorit yang dibaca saat sholat kan ya, hehe.

Nah pertanyaannya: "Apakah kita sudah memahami makna surat yang sangat pendek tersebut?"
Karena inti surat al-'Asr ternyata adalah prinsip tentang kritikan.

Pada bab itu, Ust. Nouman mengajak kita untuk merefleksi lebih dalam ayat ke-3, khususnya frase "wa-tawasaw bi-l-haqq" Di frasa pertama ada kata tawasaw, ternyata dalam bahasa Arab asal katanya adalah al-wasiyyah.

Apa itu al-wasiyyah?
Al-wasiyyah dapat diartikan sebagai pesan terakhir dari orang yang mau pergi atau meninggal.
Saat wasiyyah disampaikan, biasanya orang-orang yang mendengarnya merasa sedih hingga menangis, mereka akan mendengarkan dengan seksama, memberikan perhatian 100% pada pemberi wasiyyah, dan berusaha untuk mengingat pesan tersebut selamanya. Ya, diingat selamanya!

Coba bandingkan dengan kritikan yang sering kita terima, bukannya mau diingat, melainkan ingin dilupakan secepat mungkin! Ya kan?
Jadi, intinya wasiyyah diberikan pada orang yang kita cintai, tidak mungkin diberikan pada orang asing.

Berdasarkan buku itu, ada 3 makna penting dari TAWASAW-WASIYYAH:
1. Ketika kamu ingin menyampaikan kebenaran, kamu harus mengingat makna dari kata WASIYYAH, kamu harus menyampaikannya dengan rasa sayang.
2. Ketika kamu berniat memberikan WASIYYAH, bukan berarti kamu boleh berkata kasar atau menyerah.
3. TAWASAW artinya terjadi hubungan timbal balik. "Aku memberikan nasehat ke dalam hatimu dan aku siap menerima nasehatmu ke dalam hatiku."

Ada 4 hal yang harus diperhatikan saat menyampaikan WASIYYAH:
1. Nada bicara
2. Waktu
3. Emosi
4. Pemilihan kata
Keempat hal tersebut harus berdasarkan rasa sayang, cinta, dan peduli.
Sampaikan wasiyyah dengan cara yang halus, bukan dengan sikap yang agresif.

Ketika sampai pada penjelasan itu, benar-benar mengusik hatiku. “Ya Allah, selama ini niat baikku sudah mencerminkan caraku memberi nasehat belum ya…” Sepertinya Allah ingin menegurku melalui ayat ini, ayat yang selama ini merupakan ayat favoritku tapi (ternyata) belum aku maknai lebih dalam. Seringkali aku berniat memberi nasehat pada orang-orang terdekat (keluarga atau sahabat) tapi karena sudah emosi duluan melihat kesalahannya, eh yang keluar malah kata-kata bernada sinis. Bukannya menyentuh hati, malah menyakitkan hati. Bukannya memberikan efek dia berubah, melainkan dia semakin jauh dari kebaikan yang kita harapkan. Astaghfirullah… Aku mencoba menanamkan pola pikir bahwa bukan orangnya yang aku tidak suka tapi kesalahannya, maka aku harus berusaha mengajaknya berubah dengan cara yang halus dan baik. Nada bicara juga rasanya jadi susah dikontrol jika terbawa emosi yang meluap-luap. Seharusnya aku menenangkan diri dulu, mencoba merangkai kata-kata yang tepat, dan mencari waktu yang tepat pula untuk memberi nasehat. Intinya mengajak bicara dari hati ke hati.

Di buku itu juga tertulis:
Jangan sampai, atau jangan-jangan sering ketika kita memberi nasehat, orang yang menerima nasehat tersebut malah marah, menjadi agresif, bahkan menjadi lebih parah dari sebelumnya. Gara-gara cara kita memberi nasehat!

Meskipun yang kita sampaikan kebenaran, tapi jika caranya menyakitkan, itu artinya kita tidak melakukan "wa-tawasaw bi-l-haqq".

Kesimpulan dari ust. Nouman adalah ketika kita ingin memberi nasehat, kita harus tulus karena kita benar-benar peduli. Bukan karena kita sedang membutuhkan sesuatu dari orang tersebut sehingga kita berharap setelah kita membantunya dengan nasehat maka ia akan membantu kita pula. Tidak, prinsipnya tidak seperti itu!

Setelah membaca ulang bab ini, aku mencoba untuk merenungi lebih dalam, ternyata untuk mengamalkan sebagian isi surat yang sangat pendek ini tidak semudah saat membacanya.
Ya Allah, begitu dalamnya makna frase "wa-tawasaw bi-l-haqq"

Benar-benar harus hati-hati ketika ingin menyampaikan nasehat kepada orang lain, harus cek dalam diri dulu apakah benar untuk memperbaiki orang tersebut? Apakah sudah atas dasar peduli? Atau jangan-jangan cuma mau asal komentar tapi tidak memberikan solusi?

Ohiya apalagi ketika harus memberi nasehat pada anggota keluarga sendiri, kadang di sana lebih susah, lebih menantang, kadang ada emosi-emosi negatif yang keluar. Harus lebih sabar.

Jadi, jangan saling mengkritik yaaa, tapi saling memberi wasiyyah
Wasiyyah itu atas dasar kepedulian dan rasa sayang, kita memberikannya harus dengah sepenuh hati.

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang "tawasi bi-l-haqq" dan "tawasi bi-l-sabr"❤❤❤


Sumber: Buku Revive Your Heart - Nouman Ali Khan


Tags: Nouman Ali Khan

Posting Komentar

2 Komentar

Langsung ke konten utama