Catatan Kajian Menyambut Ramadan: Terhubung Kembali dengan Quran (1/2)
Ust. Nouman Ali Khan
Masjid Istiqlal - Jakarta
Ahad, 6 Mei 2018

🌙Ramadan semakin dekat…
Apa yang sudah kita siapkan untuk menyambut bulan kemuliaan ini?
Sudah serajin apakah kita membaca Quran?
Sudah sekuat apakah hubungan kita dengan Quran?

🌙Ramadan semakin dekat…
Mungkin banyak di antara kita yang telah rutin membaca Quran, Alhamdulillah…
Tapi, apakah kita sudah benar-benar merasakan Quran hadir di hati kita?
Tapi, apakah kita sudah bisa mencerminkan Quran dalam setiap gerakan kita?

🌙Ramadan semakin dekat…
Layaknya akan menerima tamu yang sangat spesial kita harus menyiapkan diri sebaik mungkin…
Belum tentu kita akan berjumpa dengan Ramadan tahun ini, tapi paling tidak Allah telah melihat niat baik dan usaha kita untuk mempersiapkan dengan sebaik-baiknya diri…

Alhamdulillaah hari minggu kemarin (6 Mei 2018) Allah mudahkan kaki ini melangkah ke kajian Ust. Nouman Ali Khan. Kajian dengan tema yang sangat menarik: 
Welcoming Ramadhan: Reconnect with Qur’an

Apa makna dibalik kata-kata “Reconnect with Qur'an”?
Berikut catatannya:

Bismillahirrahmanirrahiim…

Sesi 1. Jam 14.00-15.00 WIB

Mari kita sama-sama mengunjungi kembali Quran, mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Mengapa kita harus terhubung dengan Quran?
Karena semua yang Allah ciptakan pada dasarnya terhubung.

Kita mulai dengan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam
Nabi Ibrahim as. tinggal di masyarakat yang belum mendapatkan petunjuk dari Allah. Satu-satunya yang percaya adanya petunjuk dari Allah hanyalah Nabi Ibrahim. Ia memiliki pola pikir yang berbeda. 

Ia memahami bahwa: “Dia tidak hanya menciptakan kita (menciptakan telinga, kaki, tangan, mata, & bagian tubuh yang lain), tapi Dia pasti juga memberikan kita petunjuk”. Dia tidak akan membiarkan kita begitu saja, Dia pasti memberikan kita petunjuk.

Ibrahim as. berbeda dengan nabi-nabi lainnya, karena di dalam Quran, kita akan menemukan banyak do’a yang berasal dari Nabi Ibrahim dibandingkan dari nabi-nabi lainnya. 
Dengan berdo’a, Nabi Ibrahim as. mengajarkan kita untuk selalu bergantung dan memohon petunjuk hanya pada Allah.
Islam memiliki banyak nama, salah satu nama Islam adalah agamanya Ibrahim, the legacy of Ibrahim. Maka di dalam Islam, kita diajarkan untuk banyak berdo’a.

Tapi di masa itu, tidak ada yang percaya dengan Nabi Ibrahim. Bahkan ayahnya juga tak percaya! Keluarganya pun tak percaya! Apalagi masyarakat di sekitarnya!

Nabi Ibrahim juga mengajarkan kita untuk berpikir
Di masa itu, masyarakat masih menyembah berhala. Hanya Nabi Ibrahim yang menentang penyembahan tersebut. Bahkan ketika semua berhala itu dihancurkan olehnya kecuali satu yang paling besar, lalu ia mengatakan kepada orang-orang bahwa yang menghancurkan adalah berhala yang paling besar, semua orang tentu tidak percaya. 

Tapi ketidakpercayaan mereka tidak diiringi dengan pengakuan kebenaran adanya Dzat Yang Maha Kuasa atas hidup mereka. Mereka menolak kebenaran yang telah Nabi Ibrahim tunjukkan di hadapan mereka. 
Kenapa? Karena mereka menolak untuk berpikir.

Coba kita renungkan bersama…
Ketika kita makan, pernahkan kita berpikir?
Bahwa apel dan pisang atau buah-buahan lainnya yang kita makan berasal dari benih kemudian tumbuh karena disiram dengan air yang turun dari langit. Lalu ada petani yang memanen buah-buahan tersebut, kemudian ada penjual buah, lalu akhirnya dibeli dan tersaji di hadapanmu! Masya Allah.

Setiap bahan-bahan makanan yang kamu makan bisa saja berasal dari berbagai penjuru dunia. Pernahkah kamu memikirkan tentang hal ini? Tidakkah kamu menyadari kekuasaan-Nya?

Kembali lagi ke keyakinan Nabi Ibrahim, ia meyakini bahwa Dia pasti memberi kita petunjuk. Kenapa petunjuk itu penting?
Because number one of the need of human: guidance. We need more guidance than food and drink.
Kenapa memperoleh petunjuk merupakan kebutuhan utama kita?
Karena kita membutuhkan petunjuk dari-Nya terus-terusan tanpa jeda, sedangkan untuk makan dan minum pasti ada jeda sebelum akhirnya kita membutuhkannya lagi.

Ust. Nouman mencoba mengajak kita untuk memahami lagi kisah Nabi Ibrahim.
Nabi Ibrahim diusir oleh keluarganya.
Nabi Ibrahim disingkirkan oleh masyarakatnya bahkan keluar dari negaranya.
Jadi Nabi Ibrahim tidak memiliki keluarga, tempat tinggal, masyarakat, bahkan kewarganegaraan.

Mungkin jika kita mengalami hal yang sama kita akan berpikir: 
“Bagaimana aku akan makan dan minum?”, 
“Kemana aku akan pergi?”, 
“Apa yang harus aku lakukan?”, 
“Bagaimana caranya aku akan hidup?”
dst...

Tapi apa yang Nabi Ibrahim rasakan?
Ia tenang-tenang sajaa. 
Ia berpikir bahwa: “I'm okay because I have Allah.” 
Hasbi Allah…
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS 3: 173)
Ini bukan sekedar kata-kata, tapi ini adalah kisah yang powerful berasal dari Quran.

Ketika muncul rasa ragu atas apa yang terjadi dan pikiran-pikaran negatif lainnya, Nabi Ibrahim mengajarkan pada kita apapun masalah yang kita hadapi (lost your job, get sick, one of your family die), sebesar apapun masalah yang kita hadapi, tempat bersandar adalah hanya pada Allah. (Ini jadi refleksi juga selama #diamdirumah #lawancorona )

That's religion of Ibrahim ‘alaihissalaam. That's Deen of Ibrahim ‘alaihissalaam. We have to learn from it.

Nabi Ibrahim percaya Allah yang akan memberikan makan, minum, petunjuk, akan mematikan, dan jika kita mati maka Allah akan menghidupkan kita kembali. Semuanya begitu jelas baginya. Itulah yang dia ingatkan pada dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Every human being get the same chance to get guidance.
Tapi ketika Allah membangkitkan lagi kita untuk kedua kalinya, Allah tidak akan memberikan kita petunjuk lagi. Tidak ada kesempatan kedua.

Kalau di kehidupan pertama poin yang terpenting adalah petunjuk dari Allah, maka di kehidupan kedua poin yang terpenting adalah semoga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita.

Ketika Nabi Ibrahim pergi meninggalkan kaumnya karena disingkirkan, apa yang ia mohon kepada Allah? Ia berdo’a: “I hope Allah forgives me.”

Kenapa Nabi Ibrahim tidak memohon agar kaumnya dihukum oleh Allah karena menolak adanya Allah?
Di sini pelajaran menarik lainnya dari Nabi Ibrahim, untuk fokus pada diri sendiri. Kita tidak memiliki hak untuk menilai seseorang, kita tidak memiliki hak untuk menghukum seseorang, Allah-lah yang akan memberikan setiap balasan kepada manusia nanti di hari akhir. 
Nabi Ibrahim hanya fokus melihat kesalahan yang pernah ia lakukan sendiri, tidak menunjuk kesalahan orang lain. Ia selalu memohon ampunan dari Allah SWT.
Dia tidak tertarik untuk men-judge orang lain karena kejahatan dan kesalahan yang dilakukan terhadap dirinya. Dia tidak khawatir pada orang-orang tersebut. Nabi Ibrahim memahami sesuatu di masa itu. 

Ia percaya nanti di hari pembalasan, kita tidak akan peduli dengan kesalahan-kesalahan orang lain, kita hanya fokus pada diri kita sendiri. Bahkan kita tidak akan peduli pada Fir’aun atau orang yang telah berbuat jahat pada kita. Allah-lah yang berhak membalasnya.

Jadi refleksi😔 
Kalo sekarang kita suka lupa akan kesalahan-kesalahan kita, seringnya menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain. 
“Oh, emang aku pernah melakukan kesalahan itu? Kayaknya waktu itu gara-gara kamu deh” 
Kita lupa nanti di hari akhir, semuanya akan ditunjukkan tanpa ada yang terlewat.

Selain itu, Nabi Ibrahim juga berdo’a memohon kepada Allah agar diberikan teman-teman yang baik.
Karena ini do’a Nabi Ibrahim, artinya ia membutuhkan teman yang baik, apalagi kita.
Pelajaran dari do’a ini adalah agar kita memohon pada Allah untuk diberikan teman-teman yang baik.

Coba renungkan!
👉Siapakah teman-temanmu?
👉Apa yang sering dibicarakan oleh kamu dengan teman-temanmu?
👉Apa yang sering kamu kerjakan dengan teman-temanmu?
👉Apakah mereka membuatmu menjadi lebih baik?
👉Apakah mereka suka mengingatkanmu dalam hal kebenaran?
👉Apakah mereka membuatmu semakin dekat dengan Allah atau menjauhi Allah?

Do’a lain yang Nabi Ibrahim katakan (bagian yang membuat ust. NAK takjub dengan kisah Ibrahim dan beliau berkata ini susah untuk diterjemahkan):
“Give me someone who will speak the truth about me in the last generation.”  (QS. Al-Baqarah 2:129)
Itu merupakan salah satu do’a Nabi Ibrahim yang efeknya bisa kita rasakan sampai saat ini: do’a tentang permohonan datangkanlah seorang Rasul untuk umat manusia.

Padahal saat itu ia sendirian di padang pasir, tidak ada yang mendengar doanya. Dia bukan siapa-siapa, tidak ada yang tertarik padanya, dia bukan raja, atau seseorang dengan kedudukan tinggi.

Masya Allah, ribuan tahun kemudian datanglah Rasulullah SAW yang menceritakan kisah sebenarnya tentang Ibrahim dan hingga sampai ini dapat kita baca, dengar, dan maknai kisahnya. Kita dapat belajar kisah Nabi Ibrahim dari Quran.
Apa kuncinya agar do’a kita dikabulkan oleh Allah SWT? Ibrahim come to Allah with a Qolbun Salim ‘good heart’.
Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar memiliki Qalbun Salim.
Apa artinya?
Artinya adalah cara untuk mendapatkan petunjuk dari Allah adalah dengan memiliki qolbun (hati) dan salim (bersih, suci, dan lurus). 
Maka dengan hati yang bersihlah, do’a Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah.

Nabi Ibrahim tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, ia juga ingin kebaikan dan manfaat dilimpahkan pada anak dan keturunannya. Maka ia juga berdo’a untuk membuat anak dan keturunannya memiliki “good heart”. (QS. Ibrahim ayat 40-41)

Apa kesimpulan dari sesi 1 ini?
Ibrahim memiliki anak dan banyak keturunan yang merupakan nabi.
Tapi isi do'a nabi Ibrahim sebenarnya hanya meminta pada Allah untuk “one Rasul”.
Which one? Rasulullah SAW.

Coba kita resapi kembali, ribuan tahun yang lalu Ibrahim berdo’a, agar diberikan Qolbun Salim, kemudian Allah mengirimkan Jibril turun kepada Muhammad untuk memberitahukan bahwa ia ‘Rasulullah’ adalah jawaban dari do’a Ibrahim.
Do’a itu merupakan do’a yang Allah simpan selama 4.000 tahun untuk diwujudkan! Masya AllahRasulullah SAW is the answer of Ibrahim's do'a.
Coba bayangkan selama 4.000 tahun do’a tersebut dijaga oleh Allah! 
Kemudian setelah Allah kabulkan, efeknya bisa kita nikmati hingga saat ini, nikmat iman dan Islam.
Bulan Ramadan is for celebrate that Allah accepted of du’a Ibrahim.
Kita tidak dapat memahami apa artinya terhubung dengan Quran jika kita tidak memahami cara terhubung dengan Nabi Ibrahim.
Quran menceritakan kisah Nabi Ibrahim artinya ketika kita mempelajari Quran, kita akan terhubung dengan Nabi Ibrahim. Kita dapat terhubung dengan Quran jika kita terhubung dengan Nabi Ibrahim.

Quran... 
It could be in our tongue, our ear, our mind, but the Quran is number one for our heart.
It's easy to connect the Quran with our mind, tongue, and ear.
But the Quran in our heart, it's very difficult! It is not cheap!
It takes effort. We have to figure it out.
All of us have the same problem: the distance between of Quran and heart!

Ketika kita membaca Quran, itu tidak berarti engkau terhubung langsung dengan Quran.
Ketika kita mendengar Quran, itu tidak berarti engkau terhubung langsung dengan Quran.
Ketika kita belajar Quran, itu tidak berarti engkau terhubung langsung dengan Quran.

Hal ini dapat dianalogikan dengan:
Kadang-kadang ketika ada orang yang memberitahukanmu sesuatu yang sudah kamu ketahui, kamu mendengarnya sepintas lalu tapi responmu biasa-biasa saja. 
Tapi adakalanya ketika orang memberitahukanmu sesuatu dengan intonasi yang berbeda, benar-benar mengatakan dari hati, tiba-tiba engkau merasakan getaran di dadamu! Muncul emosi dalam hatimu!
Begitu juga ketika kita berinteraksi dengan Quran. 
Kita butuh keterhubungan itu lagi, lagi, dan lagi.

Jangan-jangan selama ini kita hanya membaca, mendengar, dan menghapal, Quran ada di telinga, mulut, dan kepala kita, tapi tidak menyentuh hati. Astaghfirullahaladzim…

Itu yang harus kita usahakan! Connecting our heart with Quran
Bentuk ikatan hati dengan Quran.


Note:
Tulisan ini pertama kali dibuat pada Mei 2018. Lalu dirapikan kembali pada Maret 2020.
Sekalian untuk setoran tugas #MatrikulasiNAKid #KomunitasNoumanAliKhanIndonesia 😊

Barakallahu fikum
Wallahu a’lam bishshawab

Bersambung, ke catatan sesi 2: Welcoming Ramadhan Lecture: Reconnect with Qur’an - Nouman Ali Khan (2/2)
Tags: Nouman Ali Khan

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Teteh, nuhun, yaa..
    Senang banget bacanya.. :)
    Barakallah.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sami-sami tetehkuu... Alhamdulillah.. Aamiin Allahumma aamiin :)

      Hapus

Langsung ke konten utama