BundSay Game 7 (day 9): Semua
Anak adalah Bintang - Jalan-jalan yang Bermakna
Bismillahirrahmanirrahiim...
Ada yang inget lirik di lagu Tak Perlu Keliling Dunia (OST Laskar Pelangi)?
Bagi saya ada bagian yang bener-bener bikin hati ini ‘deg’, yaitu:
Tak perlulah aku keliling dunia
Biarkan ku disini
Apa iya kita gak perlu keliling dunia? Bukankah Allah memerintahkan kita
untuk melihat apa yang ditinggalkan dari peradaban sebelum kita, jadi itu
artinya menjelajah donk, sama ga dengan travelling?
Hmmm jadi teringat beberapa hari yang lalu menyimak kajiannya Ust. Budi
Ashari yang berjudul “Ibu, teladan terbaik bagi anak” dan ada bagian yang
membahas kita jangan terlalu menikmati travelling karena tempat terbaik bagi
seorang wanita adalah di rumah, yang ternyata maknanya seperti ini (yang saya
tangkap):
Pernah mendengar ungkapan “rumahku surgaku” jadi kalo rumah ‘terasa’
seperti di surga maka siapa sih yang ga betah pulang ke rumah? Sebaliknya di
luar rumah jadi ga betah… Betah di rumah adalah konsep parenting nubuwah. Ada
hadist berbunyi “safar itu sepenggal siksaan” maka kalo kita menikmati safar (atau
travelling) itu bisa jadi masalah -pikir ulang yuk-. Kata Rasulullah jika sudah
selesai urusan di perjalananmu maka segeralah pulang. Jadikanlah rumah sebagai
sumber ketenangan, kebahagiaan, kenyamanan yang tidak bisa kau dapatkan di luar
rumah. Jadi kamu betah ga di rumah? (refleksi).
Hmmm di tahun kemaren saya merasa di titik itu, tidak terlalu terobsesi
untuk jalan-jalan ke tempat yang terkenal nan eksotis (dengan alasan #kurangpiknik
yang lagi nge-trend), bising aaah terlalu ramai nanti bukannya mendapat
ketenangan atau recharge energy malah
kerunyaman atau depleted of energy
*hmmm bagi yang introver pasti mengerti maksud saya, bagi yang ekstrover well
kami itu kebalikan kalian, bukannya aneh tapi kita emang berbeda*
Jadi saya berusaha mem-brain wash apa yang saya yakini mula-mula yaitu
mau berkeliling Indonesia, menemukan tempat-tempat tersembunyi nan eksotis biar
serasa milik sendiri gitu jauh dari keramaian, tapi koq ya itu bakal buanyaaaaak
banget list-nya, lalu jadi bertanya pada diri sendiri: Sepenting itu kah?
Caranya bagaimana untuk mewujudkannya? Akhirnya saya kontemplasi (lagi dan
lagi): emang buat apa melakukan itu? Kata tanya MENGAPA yang besar dan di-bold berputar-putar
di dalam kepala, mengapa kamu sangat ingin melakukan itu? Alasan terbesarnya
apa? Dan jawabannya tak/belum saya temukan meski berkali-kali memikirkannya. Saya
mengingatkan diri sendiri untuk tidak menjadikan alasan travelling hanya
sekedar untuk dapat cerita yang membuat orang-orang terkesima atau foto
instagrammable yang akan dipenuhi likes dan komentar bernada suka atau sirik
*uhuk*.
Baiklah saya harus meluruskan niat suka travelling-nya berdasarkan apa
(apalagi setelah mendengar kajian Ust. Budi Ashari di atas)… Kalo berdasarkan
apa yang Allah perintahkan pada manusia, nah berarti tujuannya bukan
jalan-jalan di tempat ‘wisata’ seperti itu, tapi lebih ke tempat-tempat yang
Allah sebutkan di Al-Qur’an, atau berdasarkan hadist, tempat-tempat yang disebutkan dalam sejarah Islam.
Seringkali setiap habis melakukan perjalanan, entah itu jauh atau dekat,
saya suka berkontemplasi tentang apa yang sudah didapat dari perjalanan
tersebut, hikmah apa yang bisa diambil dari perjalanan tersebut, tanda apa yang
Allah kirimkan melalui perjalanan tersebut, apakah perjalanan tersebut membuat
diri ini semakin dekat pada-Nya?.
Perjalanan yang bermakna itu intinya… Bukan tentang jauh atau dekat.
Bukan tentang dalam atau luar negeri. Bukan tentang tempat terkenal atau tempat
biasa aja. Bukan tentang ramai atau sepi. Bukan tentang sendirian atau bersama
teman/keluarga/orang yang baru dikenal.
Tapi perjalanan yang bermakna itu intinya… Apapun keadaannya kita harus bisa mengambil hikmah dari perjalanan tersebut. Perjalanan adalah waktunya kontemplasi. Yang ketika saya berhasil menemukan hikmah dibalik setiap perjalanan membuat mata ini berbinar-binar dan hati ini tenang. Banyak bersyukur… Alhamdulillaah….
#level7 #day9 #Tantangan10Hari #BintangKeluarga
#KuliahBunsayIIP #BundaSayang #InstitutIbuProfesional #IIP
Bandung, 2017
Miranti Banyuning Bumi
0 Komentar